Menuju Obama Jilid 2 (?)

on Rabu, 18 Januari 2012


Proses memilih kandidat presiden AS merupakan proses yang panjang dan rumit. Dari kubu Partai Demokrat, Presiden Barack Obama akan menjadi satu-satunya kandidat, sementara Partai Republik saat ini sedang menjalani proses untuk memilih kandidat mereka yang akan berhadapan dengan Presiden Obama pada pemilihan presiden nanti.
Bursa bakal calon presiden dari Partai Republik dimulai dengan sembilan kandidat, yang masing-masing mengalami pasang surut popularitas. Saat ini ada enam kandidat yang masih mengincar nominasi dari partai ini.
Proses resmi pemilihan pendahuluan dimulai dengan kaukus Iowa pada tanggal 3 Januari, yang diikuti dengan pemilihan pendahulan di New Hampshire, 10 Januari.
Pemilihan pendahuluan akan terus berlangsung hingga salah seorang kandidat menerima dukungan cukup banyak delegasi untuk dijadikan sebagai nominasi partai atau hingga partai berkumpul dalam konvensi pada akhir musim panas tahun ini. Warga Amerika yang terdaftar untuk memilih akan menyalurkan suara mereka di TPS-TPS pada tanggal 6 November.

Tahun 2012 ini boleh jadi bakal menjadi tahun yang paling menegangkan bagi rakyat Amerika. betapa tidak, tahun ini AS akan kembali melaksanakan proses pemilihan umum dalam rangka memilih insan dalam memimpin Amerika kedepan. Bagi rakyat AS, era kepemimpinan sangat ditentukan dengan prestasi yang dilakukan oleh Presiden dalam memimpin negara Adikuasa selama 4 tahun. pertarungan politik di Amerika kerap menjadi bahan pergunjingan negara-negara dunia. Tak ayal, kendati masih belum begitu kentara aroma Politik yang diperagakan akan tetapi pewartaan mengenai Pemilu di AS santer terdengar, bahkan sampai kepada pemirsa di negara-negara dunia ketiga. isu sentral yang tengah dihadapi negara dunia ketiga semacam Indonesia tentu adalah sosok Obama yang memenangkan proses pemilihan 4 tahun silam. tak pelak, konvergensi historis dengan nama 'Indonesia' membuat media-media lokal gencar memublikasikan kharisma Obama menuju AS 1. entah sebuah kebetulan atau tidak, dukungan moril yang disampaikan masyarakat Indonesia menjadi semacam jimat bagi Obama hingga memenangkan proses pemilihan umum di AS.

Itu tadi 4 tahun silam, lantas bagaimana di tahun 2012 ? mengawali tahun 2012 ini isu yang merebak sangat kentara terdengar. terutama terkait dengan lawan politik Obama menuju AS 1 Jilid 2 (?). keberhasilan Obama menjadi rakyat Afro-Amerika pertama yang berhasil menduduki kursi nomor satu di White House secara implisit mengangkat moril kaum Afro-Amerika yang selama ini hidup dibawah pressure masyarakat kulit putih semakin meningkat. selain itu, dukungan tak hanya sebatas DPT yang terdaftar dalam Pemilu. dukungan moril rakyat Indonesia dan Afrika yang memiliki konvergensi sejarah dengan Obama datang silih berganti.

Nama Indonesia bahkan menjadi wacana tersendiri dalam pembahasan agenda politik di negeri Paman Sam tersebut. untuk kali pertama, nama Indonesia diperbincangkan di White House. Obama yang berasal dari Partai Demokrat itupun seraya langsung mengafirmasi dukungan yang datang silih berganti kepadanya dengan 'rajin' mengunjungi Indonesia. kendati, awal periode kepemimpinannya dimulai Obama sempat membatalkan agenda kunjungan kenegaraannya ke Indonesia sempat batal. menjelang akhir tahun 2011 lalu, Obama bahkan sempat mengunjungi Indonesia di KTT Asean di Bali beberapa bulan silam.

Lantas, menarik membahas mengenai peluang Obama menjadi presiden kulit hitam pertama yang memimpin AS selama dua periode kepemimpinan. bila tahun 2008 lalu, Obama bertarung dengan McCain lewat sejumlah promosi politiknya yang humanis tersebut berhasil menguggah sejumlah rakyat AS untuk memilih dan memercayakan kepada dirinya sebagai Top of The Top Leader di negara Adikuasa tersebut. 

Bila melihat secara historis kinerja Obama selama menjabat sebagai Presiden, sedikit banyak AS mengalami sedikit stagnasi atau bahkan degradasi. krisis perumahan rakyat yang melanda AS pada 2009 silam sempat mengguncangkan dunia lantaran sejumlah perusahaan korporasi terbesar dunia seperti Lehman Brother gulung tikar. tentu ini menjadi perhatian serius bagi rakyat AS dalam memilih kembali Obama sebagai Presiden. selain itu, satu janji Obama untuk menghentikan pengiriman pasukan marinir ke Timur Tengah hingga kini bak angin lalu. AS kian gencar mengirimkan pasukannya ke Timur Tengah. yang paling gres tentu intervensi NATO (North Atlantic Threaty Organization) pada persoalan dalam negeri Libya hingga menewaskan Moammar Khadaffi. ekspansi AS dibidang militer mengalami kemajuan pesat dengan semakin kuatnya basis kemiliteran AS di Timur Tengah. Irak, Palestina, Libya, Mesir menjadi contoh nyata intervensi secara mayanita AS di era Obama. padahal, pada saat proses kampanye dirinya begitu vokal menyuarakan gerakan-gerakan humanis yang sensitif hingga mampu menggugah rakyat AS. tak menyoal sebenarnya intervensi AS dalam mendorong kesetaraan dan keadilan di bumi ini. namun, bila kondisi tersebut justru dinilai semakin memperkeruh suasana. lantas, siapa yang akan menjaga si tukang jaga ?

Pola-pola pemerintahan Obama tersebut bahkan mengalami kontraksi dengan rakyatnya sendiri. baru-baru ini sejumlah aktifis HAM di AS melakukan demonstrasi mendukung penutupan penjara Guantanamo. kendati, pada saat pemilhan Obama begitu humanis dengan menyuarakan gerakan Humanis termasuk menutup penjara Guantanamo yang dituding telah banyak melakukan pelanggaran HAM di AS tak mengalami perubahan. penjara yang kerap menjadi rumah bagi teroris dan penjahat kelas kakap tersebut dianggap telah mencedari hak asasi setiap manusia yang paling asasi. terutama hak atas badan, nyawa, hidup dll.

Menanggapi sejumlah kompleksitas permasalahan yang mendera Amerika ada semacam tren yang sengaja dibuat Obama untuk mempertahankan basis elektifitas pendukungnya. ketiadaan preseden yang berkualitas bagi AS semasa era Obama sengaja didesain untuk mendapatkan dukungan kuat dari negara-negara sahabat agar tetap menjalin komunikasi dengan AS. terkhusus, Timur Tengah. pengamanan lewat jalan militerisasi (koloni) yang divisikan sebagai cara mendekatkan AS dengan negara Timteng menjadi perhatian serius sejumlah negara sekuler di wilayah Timteng. lihat saja, hingga kini hanya Iran yang tidak menjadi boneka pasar AS ala Obama. Obama cerdas dengan mengangkat isu-isu sentral internasional ketimbang memperhatikan isu urgensi domestik. Obama sengaja mendekatkan polemik nuklir iran dan demokratisasi di negara-negara Arab sebagai first gun Obama dalam menjinakkan negara-negara petro dollar. keuntungan yang didapat AS tentu bukanlah keuntungan elektoral. dengan AS memberikan semacam wacana dahsyat terkait nuklir Iran yang dikatakan dapat mengancam stabilitas dunia membuat pemimpin Arab penyamun kontemporer itu berkata "What Should I do?". pilihan jelas kepada AS, mereka memberikan pengamanan dan they will get cash. 

0 comments:

Follow by Email