on Rabu, 30 November 2011
vakumnya aktifitas politik kampus di FH Unsri dituding sebagian mahasiswa BEM FH Unsri bak macan ompong yang tak lagi garang. butuh waktu sekitar lima bulan lebih detak henyak kehidupan politik kampus kembali dikibarkan. penggiatnya mencoba berupaya agar FH Unsri tak lagi kehilangan taringnya seperti halnya isu yang merebak.
diawali dengan proses peralihan gubernur BEM FH Unsri periode 2010/2011, M. Suherial Amin banyak pihak yang menyayangkan pilihan Aldo (sapaan akrabnya) meninggalkan BEM sebelum pemilihan raya digulirkan. tak pelak, hal ini menimbulkan sedikit polemik akan responsibilitas Aldo selaku gubernur mahasiswa. namun, hingga kini keterangan yang bersangkutan tak berujung pada solusi konkrit terhadap BEM FH itu sendiri.
tak ayal, pasca peninggalan tampuk kepemimpinan mahasiswa praktis BEM FH mengalami kekosongan pemimpin. tak hanya itu, kendala teknis turut pula menghiasi awan kelabu BEM FH yang semakin diujung tanduk. sejumlah pegiat BEM yang rata-rata angkatan 2007 kebanyakan telah memasuki semester akhir menjelang kelulusan.
hal tersebut berimplikasi pada kurang berpengalamanya regenerasi BEM dalam memposisikan diri sebagai Ormawa yang membawahi BO-BO dalam lingkup fakultas hukum. praktis, pasca peninggalan sesepuh dari BEM tak ada kegiatan besar yang diagendakan BEM FH Unsri. denyut kehidupan kampus benar-benar mati. kegiatan kampus kebanyakan bertumpu pada beberapa BO yang masih tetap eksis menyemarakan FH.
menurut hemat saya, hanya satu kegiatan yang diselenggarakan BEM FH yang dapat dikatakan adalah titik balik eksistensi BEM. Kongres Luar Biasa ISMAHI kemarin dapat dikatakan merupakan perhelatan sukses ditengah kegamangan BEM. kendati dihalang kendala baik teknis maupun non teknis yang mengganggu jalannya acara. akan tetapi, overall kegiatan KLB Ismahi berlangsung sukses.
satu catatan saya selama mencermati perjalanan BEM. pasca transisi kepemimpinan pra-pemira dari Aldo selaku gubernur mahasiswa ke Henrico (PJS BEM) praktis kecil kemungkinan mekanisme kontrol buat sang PJS. tak ayal, kalangan mahasiswa menuding pasca kehilangan taring BEM kini hanyalah sebuah kamuflase dibalik perkumpulan organisasi eksternal dalam internal kampus. tak jadi soal sebenarnya bilaman sekretariat pegiat BEM diisi oleh oknum organisasi eksternal. namun yang menjadi pertanyaan, kenapa sekretariat BEM seolah menjadi sarang HMI. disini saya mulai mengendus aroma politik kampus yang tidak menyenangkan. betapa fungsi sekretariat BEM digunakan bagi pegiat BEM dimanfaatkan guna mencapai tujuan yang dicita-citakan, alih-alih menyelenggarakan kegiatan sekretariat BEM bermetamorfosa sebagai ajang kongkow-kongkow.
sedikit menuai keprihatinan akan nasib BEM kedepannya. namun, kegundahan itu perlahan sirna dengan digulirkanya pemilihan umum mahasiswa FH Unsri. kamis (24/11) menjadi tanggal bersejarah dalam kampus FH. betapa tidak, untuk kali pertama pemira dihelat kendati molor hampir selama lima bulan.
yang mencalonkan ada dua pasang. KPU Pemira FH Unsri melansir, calon nomor urut 1 diduduki Almeidy dan calon nomor urut 2 dibukukan Henrico (PJS BEM). secara track record, keduanya memang belum memliki reputasi organisasi yang menjulang. Almeidy sebelum menjabat sebagai ketua Olympus pun belum begitu bersinar. terbukti, Olympus layaknya BEM yang hanya hidup pada saat proses pengenalan kampus (P2K) kepada mahasiswa baru digulirkan. kemudian, Henrico. menurut catatan saya, reputasi organisasi Henrico dapat dikatakan lebih laik secara kuantitas. henrico pernah bergabung bersama Olympus, Alsa, BEM, HMI. namun, isu yang menerpa dirinya dapat menjadi boomerang karirnya di pentas politik kampus FH Unsri. akan tetapi, saya menghimpun keduanya masih terlalu muda untuk memimpin BEM FH Unsri.
dengan sekelumit dan kompleksitas permasalahan yang luas, BEM dapat menjadi objek vital kekisruhan.
pada akhirnya, saya mencermati adanya satu bentuk disharmonisasi manajemen aktifitas mahasiswa. hilangnya skrip AD/ART BEM FH Unsri memungkinkan akan terjadinya indikasi penyelewengan lantaran tak ada landasan hukum yang mendasarinya. hal ini linear dengan berita yang merebak bahwa pemira 2011 akan segera digulirkan. pemira yang pertama menurut calon nomor urut 2 telah terjadi indikasi kecurangan. asumsinya, KPU dan calon nomor urut 1 kongkalikong dalam proses penghitungan suara. walhasil, dimotori PD III, Rd. M. Ikhsan mengamini permintaan calon nomor urut 2 untuk menggelar pemira ulang. terlihat, yang sebenarnya kongkalikong itu siapa ?





on Selasa, 29 November 2011
Google
I. Pendahuluan

Dewasa ini, indikasi kejahatan yang beredar menjadi satu keniscayaan. Tak hanya dikota-kota besar, wilayah pinggiran dari suatu daerah kerap menjadi lahan subur terjadinya perbuatan melawan hukum. Variannya beragam, kejahatan terhadap nyawa dan harta kekayaan menempati urutan tertinggi. Tak hanya itu, perbedaan jender saban hari menjadi incaran pelaku kejahatan dalam memuluskan niatnya.
Bahkan, statistik yang dilansir di harian Kompas[1], mewartakan terjadinya angka penurunan indeks kriminalitas yang terjadi di seluruh wilayah nusantara. Kendati demikian, bila melihat data kuantitatif yang dikeluarkan Kompas mengindikasikan betapa angka kriminalitas di Indonesia sangat subur.
Tak ayal, saban hari bila kita cermat memerhatikan pemberitaan lokal dan nasional, media kerap mereportasikan informasi seputar dunia kejahatan yang terjadi dalam hitungan detik. Bahkan, dengan semakin besarnya laju pertumbuhan Negara Indonesia yang mencapai 3-4 juta jiwa/tahun dibarengi dengan pertumbuhan laju angka kriminalitas yang mencapai 10 menit/tindakan kejahatan). [2]
Hal ini justru diperparah dengan semakin menjamurnya tindak kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang semenjak tahun 2007 mengalami grafik peningkatan yang sangat signifikan. dinamika kependudukan lagi-lagi menjadi dalih atas semakin goyahnya stabilitas Negara.
Negara menghadapi tantangan ekstra berat dalam meminimalisir dan menekan laju angka kriminalitas yang bermuara dari semakin buruknya kondisi sosial-ekonomi di Indonesia. kendati laju pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan yang ditandai dengan pencapaian maksimal RI dalam pengembangan Human Develompent Index (HDI) yang mencapai titik tertinggi sebesar 0,600 % bahkan institusi keuangan internasional menyebutkan bahwa Indonesia dikategorikan sebagai tujuan investasi paling layak. [3]
Paparan demikian menunjukan betapa masalah ekonomi masyarakat Indonesia tidak dalam kategori sebagai sebuah Negara gagal.[4] Namun, perlu ditelaah secara sosiologis apa yang menjadi motif pelaku kejahatan dalam melancarkan aksinya.
Berkenaan dengan itu, penanganan kasus-kasus kejahatan baik berupa tindakan preventif hingga represif dari aparat penegak hukum seharusnya dapat dimaksimalkan secara optimal. Penguatan aspek lembaga-lembaga penegak hukum yang terstruktur dalam satu bentuk integrasi kehakiman (Integrated Criminal Justicei) perlu dilakukan. [5]

II. Pembahasan
            Berdasarkan amar putusan Pengadilan Negeri kelas 1A Surabaya yang menjatuhkan vonis kepada Anton Setiono Bin Mukayat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Berdasakan keterangan yang berhasil dihimpun, asal muasal terjadinya pembunuhan diketahui lantaran saling ejek antara Anton Setiono Bin Mukayat (Terdakwa) dengan Mohamad Haryadi al. Solik (Korban) yang mengakibatkan hilangnya nyawa korban. ‘

            Berdasarkan keterangan primair yang dibuktikan oleh penyidik menyebutkan bahwa dalam kasus saling ejek di sebuah arena bilyar tersebut tak hanya tersangka dan korban yang tengah berada ditengah kejadian. Kendati awal mula cek-cok mulut diantara keduanya (tersangka dan korban) tak menuai hilangnya nyawa seseorang, namun rekanan keduanya dapat dikatakan melakukan delik pembiaran yang diduga sepantasnya ia tahu bahwa akan terjadi satu bentuk hal yang tidak wajar. Saksi PRAPTO, saksi ZAENAL al. BONENG, saksi NANANG al. NGOWOS, saksi DODIK al. FILIN adalah nama-nama rekanan korban dan tersangka yang dapat didakwakan melakukan delik pembiaran terhadap orang yang perlu ditolong (Pasal 304 KUHP)[6]

            Berkenaan dengan dugaan telah terjadinya delik pembiaran dari rekanan korban dan tersangka, Mohamad Haryadi yang pada saat dugaan telah terjadinya delik pembiaran dari rekanan korban dan tersangka, tengah dalam keadaan tak berdaya lantaran dipukuli oleh tersangka. Berdasarkan keterangan saksi dan tersangka, kelimanya hanya melakukan peleraian.

            Selain itu, perlu pula ditelaah pasal 350 KUHP ayat (1) dan (3) tentang penganiayaan yang menyatakan bahwa : (1) penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. (3) jika mengakibatkan mati maka diancam dengan penjara paling lama tujuh tahun. Meruntut penjatuha vonis bagi pelaku tindak pidana, secara teoritik dapat digunakan rumusan pemidanaan sederhana dengan menggunakan sistem absorspsi tambahan.

Sistem tersebut merupakan sistem yang memungkinkan terjadinya penggabungan (Samenloop). Menurut Pasal 65 KUHP sistem ini dipakai jika beberapa kejahatan diancam dengan hukuman utama sejenis tergabung dari berbagai perbuatan yang tidak berhubungan. [7]
Selain itu, dalam ilmu hukum pidana juga dijelaskan bahwa penggabungan tindak pidana (Samenloop van Strafbare Feiten) itu dibagi dalam beberapa macam diantaranya[8] :
a.       Endaadsche Samenloop atau Concurcus Idealis
b.      Voortgezette Samenloop
c.       Meerdaadsche Samenloop atau Concurcus Realis

Dari ketiga macam gabungan (Samenloop) ini, yang benar-benar merupakan gabungan ialah yang disebut sub c, yaitu beberapa perbuatan digabungkan menjadi satu, maka juga dinamakan Concurcus Realis. Sedangkan gabungan sub a dinamakan Concurcus Idealis oleh karena sebenarnya tiada hal yang digabungkan, melainkan ada satu perbuatan yang memancarkan sayapnya kepada beberapa pasal ketentuan hukum pidana.
Relevan dengan kasus pembunuhan (Vide : Pasal 338 jo Pasal 350 KUHP) Anton Setiono dapat dikenakan pasal berlapis lantaran telah melakukan penganiayaan yang menimbulkan hilangnya nyawa korban atau berujung pada kematian.
Kendati vonis pengadilan negeri kelas 1A Surabaya hanya menjatuhkan satu pasal yakni pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan kurungan penjara selama 12 tahun dan dikurangi masa hukuman semasa menjalani pemeriksaan, namun ditelaah berbelok sedikit sebetulnya tersangka telah melakukan penggabungan delik pidana lantaran sebelum eksekusi terjadinya pembunuhan (Vide : Pasal 338 KUHP) didalam Surat Putusan dijelaskan bahwa korban sebelumnya mendapatkan penganiayaan berupa beberapa pukulan yang mengenai kepala korban.
Namun, berdasarkan hasil Visum et Repertum memang tidak dijelaskan secara mendetail lantaran proses peradilan hanya mengacu pada akibat (Delik Materiil) tidak melakukan analisis yuridis dalam dunia forensic terhadap kejadian secara runtut. Apakah sebelum terjadinya pembunuhan korban telah mendapatkan kekerasan fisik secara langsung yang dapat menimbulkan penambahan masa tahanan tersangka lantaran perbuatan yang dilakukannya.
Kendati demikian, hakim telah menjalankan posisi dan fungsinya secara strategis dengan pertimbangan matang. Hakim jelas jauh lebih tahu lantaran telah mendengarkan petum (penuntut umum) dan kesaksian langsung dari saksi mata dan tersangka. Hakim yang sebelum menjatuhkan vonis kepada terdakwa telah melakukan analisis perspektif secara seimbang dengan memerhatikan aspek yuridis, sosiologis dan filosofis yang dapat membantu efisiensi kinerja hakim dalam menjatuhkan/mengadili satu tindak pidana.
Oleh karena itu, agar langit tidak runtuh (Fiat Justicia Ruat Culum) hukum harus tetap ditegakan dengan memenuhi rasa keadilan masyarakat, dan memenuhi asas kepastian hukum dan kebermanfaatan hukum agar tercipta akuntabilitas law enforcement dalam lingkup peradilan pidana di Indonesia yang jauh lebih baik.
Fungsi hakim tentunya tak hanya sebatas sebagai corong undang-undang. Tentu hakim mempunyai otoritas dalam rangka menemukan hukum (rechtsvinding). Hakim dan hukum ibarat dua mata pisau yang tak terpisahkan, keberadaan hukum selalu berbanding lurus dengan eksistensi hakim. Sudah barang tentu, hukum yang dicpitakan hakim harus pula memenuhi rasa keadilan masyarakat bilamana ketentuan pokok pemidanaan yang tercantum dalam satu bentuk pengkodifikasian UU Hukum Pidana (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan sosial kemasyarakatan masyarakat Indonesia.


[1] Kompas, Angka Kriminalitas Turun, 21 Januari 2011
[2] Kompasiana, “BOM” Penduduk, 07 April 2011 lihat juga Bencana Demografi tajuk rencana Harian Umum Sriwijaya Post, http://www.sripoku.com. Data sensus penduduk terakhir (2010) Indonesia saat ini memiliki jumlah penduduk mencapai 250 Juta Jiwa. Hal tersebut memicu laju pergolakan konflik horizontal berupa kejahatan, pengangguran, dan kemiskinan. BKKBN berupaya menakan laju angka penduduk dengan mengkampanyekan “2 Anak Lebih Baik”, namun hal tersebut tak berjalan mulus.
[3]Lihat  Denny Indrayana, Indonesia Optimis, PT Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia), Jakarta, 2011 Hal 122
[4] Denny Indrayana, Op.Cit, Hal 128
[5] Lihat Makalah Rendi Hariwijaya 27/8/2011 “Penguatan Aspek Lembaga Kepolisian dalam Menanggulangi Tindak Pidana Korupsi” atau dapat diakses melalui internet melalui http://www.journalistsociety.wordpress.com
[6] Lihat Pasal 304 KUHP yang berbunyi “barangsiapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seseorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum berlaku baginya atau persetujuan dia wajib member kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam dengan penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
[7] Lihat C.S.T Kansil dan Christinna Kansil, Pokok-pokok Hukum Pidana (Hukum Pidana untuk Tiap Orang), PT Pradnya Paramitha, Jakarta, 2004. Hal 70
[8] Ibid, Hal 71
on Senin, 28 November 2011
 Anda tentu sudah tahu bahwa salah satu cabang olahraga popular tanah air yang paling digandrungi selain tentunya Sepakbola adalah Bulutangkis. Terkaan anda tentu bukan tanpa alas an, selain secara historis Indonesia punya kedekatan emosional yang sangat erat dengan cabang olahraga yang berasal dari India dan dikembangkan di Inggris ini.
Sejarah panjang dunia perbulutangkisan Indonesia tentu sudah menjadi hal lumrah menghiasi pemberitaan media dunia. Melalui inilah nama Indonesia harum. Bendera merah putih bisa dikibarkan dipuncak tertinggi dunia, lagu kebangsaan Indonesia Raya mampu diperdendangkan di jagat dunia.
Saking gandrungnya masyarakat Indonesia dengan cabang olahraga satu ini, disetiap kampong-kampung dipelosok dan dipetak-petak rumah susun cukup mudah anda temui lapangan sedang berukuran 14 meter dikali 4 meter.  Hal ini menunjukan betapa masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan tepok bulu.
Tak ayal, gelora nasionalis sering kali membuncah bila atlet-atlet kenamaan negeri tengah bertanding mempertaruhkan nama bangsa. Semangat pantang menyerah, ditambah dukungan yang membludak, sorak sorai Indonesia..Indonesia..dan gegap gempita arena pertandingan yang bergemuruh membuat siapa saja tak bergeming dan enggan untuk lepas dari kursi penonton tatkala melongok atlet kebanggaan bertanding.
Lihat saja pagelaran Djarum Indonesa Super Series 2011, even pertandingan yang memang rutin digelar di Bumi Nusantara semenjak 1980-an silam ini selalu saja menjadi magnet tersendiri bagi para badminton lovers. Tak menyoal seberapa jauh jarak tempuh yang dilalui menuju arena pertandingan, tak menyoal berapa rupiah yang harus mereka rogoh untuk memasuki arena pertandingan, tak menyoal seberapa aneh dan nyeleneh dandanan mereka untuk datang menyaksikan sang idola. Satu visi yang mereka bawa, nasionalisme.
Bulutangkis adalah satu dari beberapa cabang olahraga di Indonesia ini yang mampu menjadi daya tarik luar biasa dan gegap gempita nasionalisme. Demi mendukung tim Indonesia berlaga, mereka rela menyisihkan banyak uang demi mendukung tim kesayangan Berjaya. Semua itu karena Bulutangkis adalah prestasi bangsa. Demi menunjukan rasa nasionalisme yang tinggi, apapun dilakukan asalkan asa tetap terpelihara.
                Bulutangkis sering kali menjadi asa pelipur lara ketika negeri ini tengah terkoyak diterpa musibah. Ketika Indonesia tengah merayakan HUT RI-nya yang ke-59, atlet bulutangkis nomor satu Indonesia, Taufik hidayat sukses mempersembahkan kado indah dengan peras keringat dan sabetan raket yang Ia ayunkan lewat Medali Emas Olimpiade Athena 2004. Emas ini sekaligus menjadi gelar pelipur lara demi mengobati kisah pilu yang dialami saudara-saudara di Bumi Serambi Mekkah yang tengah dirundung bencana pada Desember 2004.
                Ketika Indonesia kembali merayakan hari jadinya yang ke-63, lagi-lagi Bulutangkis memberikan kado manis lewat suksesor atletnya, Markis Kido dan Hendra Setiawan berhasil merengkuh gelar prestisius di cabang olahraga Bulutangkis, Medali Emas di Olimipade Rajanya Bulutangkis, Cina. Semenjak cabor Bulutangkis digelar untuk kali pertama tahun 1992 di Barcelona, sudah 6 Medali Emas disabet kesatria dan srikandi negeri di lima ajang Olimpiade berbeda.
                Nah, kondisi inilah yang acap kali disinyalir sebagai pembangkit gairah nasionalis yang redup akibat dari corat marut negeri. Lewat sabetan raket atlet yang ciamik, lewat daya juang dan semangat yang tinggi, seolah mampu memecah penatnya kondis negeri. Sontak, gemuruh bergelora. Terpatri semangat dan rasa nasionalis.
               
Logo ITB/Google.Net
    Ditengah-tengah semakin kompetitifnya zaman dalam mengusung tema perubahan secara radikal yang struktur, menjadi fenomena tersendiri dewasa ini. pergulatan teknis yang mengurai praktis menjadi bumbu kehidupan manusia modern abad 21. Tak ayal, peran serta perguruan tinggi sebagai gudang pencetak intelektual muda dalam mengusung tema perubahan dan subjek perubahan kultur zaman itu sendiri dibebankan.
Ramai-ramai, sejumlah Negara menyemarakan program pendidikan murah yang berkualitas namun dibarengi dengan sejumlah fasilitas representatif. Amerika Serikat sebagai Negara adikuasa tentu menjadi pilihan wahid masyarakat dunia dengan reputasi dan konlgomerasinya sebagai Negara maju. Tengok saja, data 4ICU (International College University) menunjukan indikasi positif Sembilan dari sepuluh universitas terkemuka berada di negeri Paman Sam.
Tak ayal, kebanyakan masyarakat dunia justru menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan studinya ke Amerika Serikat ketimbang Negara-negara lain. Reputasi perguruan tinggi di Amerika menjadi gambaran betapa efektifnya peranan (role) akademisi dalam bahu membahu membangun kemajuan bangsa dan Negara. Beberapa persyaratan yang menjadi signifikansi progresif terhadap keunggulan suatu universitas dapat dijadikan tolok ukur. Seperti halnya, daya saing (Compete) mahasiswa ditingkat regional maupun internasional hingga terserapnya alumni kedunia kerja.
Statistik yang menunjukan garis linear perguruan tinggi dengan kemajuan bangsa telah terpapar cukup jelas diatas. Kendati data-data yang dihasilkan tak melulu 100% benar, namun paling tidak konsekuensi logis dari sebuah perumusan data kuantitatif sebuah perguruan tinggi dapat dijadikan wacana pengembangan diri. Lantas, kemana perguruan tinggi di Indonesia ?
Bila merujuk pada data kuantitatif yang dipubliskasikan 4ICU.org, peringkat universitas top nasional dapat dikatakan memrihatinkan. Universitas Indonesia sebagai perguruan tinggi nomor wahid di nusantara belum mampu menyaingkan dirinya dengan universitas manca Negara. UI tak berdaya ketika diadu dengan ribuan universitas manca Negara dan hanya bertengger di urutan 217 (QS Top Universities 2011). Bahkan, urutan tersebut jauh dibelakang Universiti Malaya yang berada pada ururtan 169 dan Chunglangkorn University yang duduk diposisi 171.
Tentu, melihat rentetan statistic diatas menunjukan adanya ketidak sinkronan pengelolaan universitas yang menyatu dengan tri dharma perguruan tinggi. Dismanajemenisasi kampus sering kali menjadi bumbu tak sedap gudang intelektual melalui pemberitaan nasional. Premanisme kampus kembali mencuat. Sejumlah kampus bahkan diberi label sarang anarkis. Orientasi das sein mahasiswa berbanding terbalik secara realistik.
Miris memang, namun apa mau dikata. Pemuda yang menjadi roda penggerak kemajuan bangsa ternyata belum mampu menunjukan taringnya. Mahasiswa dan pemuda sekarang terlalu sibuk dengan pergulatan dialektika politik kampus yang tak menuai makna. Ada yang menyangsikan keterlibatan mahasiswa dalam politik. Jusuf Kalla bahkan pernah mengutarakan hal senada yang menyatakan bahwa orientasi berpikir mahasiswa itu belajar bukan menghajar.
Tak hanya itu, persoalan klasik semacam fasilitas kampus terus bergulir. Semakin tumbuhnya iklim intelektual dengan ditandai semakin maraknya pendirian perguruan tinggi di Indonesia tak menuai angin segar. Tak ayal, hal tersebut justru semakin menimbulkan satu hal yang kadang-kadang problematik.
Pertanyaanya, gusarkah kita ? tentu saja tidak. Indonesia punya harapan cerah menjadi satu bangsa yang perkasa diera globalisasi. Revitalisasi kampus kiranya perlu dipertimbangkan agar tercapai satu bentuk kultur akademik yang baik. Penataan ulang berupa manajemen kampus yang lebih kapabel, kapasitas intelektual dan integritas moral yang tinggi akan mampu mengangkat pamor perguruan tinggi di Indonesia secara perlahan.
Pembenahan sistem penjaringan calon mahasiswa pun tampaknya dapat diwacanakan menjadi satu bahasan menarik. Kendati, hak setiap orang untuk mendapatkan pendidikan namun perlu dilihat pula kapasitas setiap orang untuk mampu bersaing secara kompetitif dengan setiap orang lainnya. Standardisasi pembelajaran dengan mencontoh beberapa Negara yang telah secara visioner mengimplementasikan pola kerjanya kiranya patut untuk ditiru dan diterapkan di tanah air.
Bukankah, mencontoh hal yang baik tidak menjadi satu hal yang berdosa. Semua kembali kepada kita, tekadkah kita untuk menjadi bangsa yang besar. Bulatkah niat kita untuk menjadi bangsa yang tidak tertindas. Sebelum menyesal, menangislah dahulu dengan pahit getir penderitaan demi mengangkat pamor bangsa dipentas dunia sebelum orang tertawa melihat ringisan tangisan kita lantaran menjadi pengemis diantara orang kaya.

               
on Minggu, 27 November 2011
Bila anda sering menaiki bus mahasiswa melalui wilayah seputaran Cinde menuju kampus Indralaya, anda pasti sudah tak asing lagi dengan kehadiran sejumlah pengamen jalanan yang ‘menjual’ suaranya. Apalagi, setiap harinya pengamen jalanan ini rutin dan bergantian posisi mengisi bus-bus yang ditumpangi mahasiswa. Jadi, kehadiran mereka seolah menjadi bumbu ditengah perjalanan yang akan menguras waktu dan tenaga.
Bila beruntung, anda akan menemukan atau bahkan mendapati pengamen dengan kualitas ‘bintang lima’ namun seharga ‘kaki lima’. Bila ketiban sial, terpaksa anda mendengarkan lantunan lagu yang diperdendangkan pengamen anak-anak yang (maaf) mempunyai keterbatasan dalam hal tarik suara. Bukan sebagai bentuk penistaan, namun hal tersebut adalah ekspresi sebagai penikmat musik. Kehadiran sejumlah pengamen jalanan sejati, yang memang benar-benar menggantungkan hidupnya sebagai pengamen adalah sebagai representasi dari kedigdayaan Indonesia dalam memiliki penyanyi-penyanyi bertalenta luar biasa.
Bahkan, sempat terlintas dalam benak pikiran. Bila saja ada salah seorang pengamat music atau pemandu bakat rajin mengulik bakat-bakat potensial dari musisi jalanan, saat ini pasti anda sudah menyaksikan kesuksesan musisi jalanan didepan layar kaca televisi anda. Salah satu contohnya adalah Aris. Penyanyi solo yang merupakan binaan acara pencari bakat, Indonesian Idol tersebut adalah bukti nyata bahwa musisi jalanan mampu bersaing di jagat industri musik nasional. Bakat dan kemampuan olah vocal yang mumpuni plus karakter khas mereka yakni power suara yang stabil, menjadi modal awal mereka menapaki terjalnya sebagai penyanyi professional.
Ditempa dalam keadaan yang serba sulit, membuat mereka tahan banting akan kerasnya persaingan industri musik Indonesia. Tak ayal, lantaran kerja keras yang tak pantang menyerah membuat mereka mampu bertahan ditengah terpaan badai yang tengah menimpa di kala popularitas mereka tengah menaik.
Musisi jalanan mampu menjadi dahaga di tengah kekeringan industri musik nasional yang rigid. Kehadiran mereka yang kerap memperdendangkan lagu yang berlatar kritik social mampu menyedot perhatian sejumlah peminat musik. Kekakuan industri musik dalam negeri mampu ditawar oleh desiran nada yang dilantunkan oleh musisi jalanan.
Bagi pecinta musik, kehadiran musisi jalanan sontak membuat kehangatan dan kenyamanan dalam menikmati musik menjadi lebih terasa. Sekali lagi, kekakuan permusikan dalam negeri dapat diantisipasi lewat kehadiran musisi jalanan yang kerap distreotipkan sebagai suara rakyat.
Seberapa sering anda menyaksikan iklan-iklan layanan masyarakat yang tidak layak untuk dikonsumsi publik. Seberapa seringkah anda melihat betapa vulgarnya artis-artis yang melakoni peran sebagai model iklan tersebut. seberapa banyak sih rasio iklan yang ditampilkan pada jam-jam utama ?
Meruntut semakin maraknya dan semakin leluasanya para pelaku bisnis dalam memasarkan produknya kini merupakan sebuah tren positif bagi perekonomian dalam negeri. selain produk-produk tersebut membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan publik, adanya promosi dan iklan tersebut merupakan resonansi dari permintaan masyarakat.


Namun, aktifitas semacam ini kurang mendapat perhatian yang responsif dari komisi penyiaran Indonesia selaku badan khusus yang membidangi komersialisasi penyiaran publik. sudah berapa banyak tayangan-tayangan kurang layak muncul dimedia yang menjadi mediator informasi publik. mulai dari acara-acara talk show yang mempertontonkan host dan guest star lengkap dengan ‘milik pribadi’nya secara cuma-cuma hingga produk-produk tabu bagi masyarakat Indonesia seperti iklan kondom dsb.
Hal ini jelas membuat risih. kehadiran iklan-iklan yang berbau hal-hal yang tabu membuat perkembangan psikis anak menjadi terganggu. secara tidak sengaja mereka akan memeragakan adegan serupa yang ditampilkan di layar kaca disekolah dan dilingkungan bermain mereka.
Bukan tak mungkin, lantaran keranjingan bermuara dari ketidak sengajaan menonton hal-hal tabu yang acap kali dipertontonkan di televisi membuat mereka penasaran dan tak tahan untuk mencoba. Kejadian mencengangkan yang dilakukan oleh sekelompok anak sebaya berusia 10-12 tahun di Palembang beberapa bulan terakhir bukan tidak mungkin akan terulang bahkan posibilitas kejadian dengan lebih. lantaran, media komunikasi dan informasi kini menjadi salah satu indikator perkembangan anak. televisi boleh jadi menjadi dalih dan kambing hitam atas kebobrokan mental dan moralitas anak bangsa. Dan jangan berkelit bilamana pengkambing hitaman atas dalih terjadinya dekadensi moral anak bangsa berlatar belakang dari junta-junta televisionis dibalik layar kaca. Merekalah yang memberikan izin atas penyiaran informasi tersebut, Mereka pulalah yang memberikan legal/tidak legalnya serta pencatutan kata bermanfaat atau tidak bermanfaatnya sebuah iklan layanan masyarakat.
KPI sebagai badan pengawas lalu lintas penyiaran di Indonesia seharusnya lebih akomodatif dan jemput bola dalam mengatasi luputnya informasi media yang dianggap tidak patut. KPI harus punya standar baku (bukan standar ganda) dalam mengantisipasi tayangan-tayangan vulgar yang tersiar di media massa. Dengan begitu, media informasi komunikasi kita akan bersih dari informasi yang tidak patut untuk disiarkan. Terutama yang berkaitan dengan SARA dan etika moral yang berlaku ditengah masyarakat Indonesa.
Untuk lebih mengakrabkan telinga masyarakat akan sumber energi pembangkit listrik alternatif yang aman dan tidak berpolusi. Perlu sebuah langkah progresif dalam menyadarkan masyarakat terutama kalangan akademisi betapa Nuklir sebagai energi alternatif futuristik yang aman dan tidak polutif baik untuk Indonesia.
Logo Nuklir
Perihal apa? Untungnya saya pernah mewawancarai Dr. Ferhat Aziz selaku ketua BATAN dalam sebuah even publik. Menyoal tentang efektifitas dan efisiensi sumber energy baru ia pun akhirnya angkat bicara. Dirinya mengaku bahwa saat ini pengembangan energi alternatif selain panas bumi atau yang lazim disebut energi geothermal sudah sangat urgensi bagi masyarakat Indonesia. Saat ini Indonesia memang dianugerahi sumber daya alam (SDA) yang begitu melimpah. Termasuk, energi mineral. Menurut data WGC (World Geothermal Conference) yang diselenggarakan di Bali pada 2010 silam, Indonesia saat ini tengah menduduki posisi ketiga sebagai negara dengan cadangan energi geothermal terbesar dengan potensi 28.000 Megawatt. Namun, kendati Indonesia dikauruniai SDA yang begitu melimpah, tidak serta merta hal tersebut berimplikasi positif terhadap semakin efisiennya negara ini dalam mengeksplorasi sumber energi bagi kesejahteraan amsyarakat. Asumsi dasar menyebutkan bahwa kebutuhan masyarakat akan energi yang dikoneversikan ke sumber energi listrik adalah sebesar 100.000 Megawatt. Namun, yang hanya bisa dihasilkan oleh cadangan energi panas bumi (Geothermal) di Indoensia hanya sebesar 10.000 Megawatt. Walhasil, tinggal 90.000 Megawatt lagi yang mesti dieksplorasi. 
Nah, salah satu caranya adalah mengeksplorasi sumber galian energi baru yang bisa dijadikan pusat pengembangan energi aletrnatif. Sumber energi tersebut adalah Nuklir. bila mendengar kata Nuklir, yang terlintas dibenak kita adalah bahaya, kematian dan lain sebagainya. Bukan tanpa alasan, pemberitaan media massa yang memberangus otak masyarakat dengan ketakutan, kekalutuan nan luar biasa serta akibat yang ditimbulkan berupa bahaya yang luar biasa menjadi salah satu contohnya. Selain itu, pengembangan teknologi nuklir yang dilakukan oleh Chernobyl pada masa perang dingin yang memakan korban hampir 60 orang semakin menambah paranoid masyarakat bahwa nuklir dengan stereotipe "BERBAHAYA''. Betapa tidak, bila pengembangan teknologi nuklir yang dimanifestasikan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan komponen dan sistem pertahanan berlapis. dijamin, gedung reaktor nuklir yang dijadikan sebagai pusat eksplorasi tenaga nuklir bakal berjalan aman. Bahkan demi menjamin keamanan dalam pengeksplorasian uranium yang menjadi bahan dasar sumber energy nuklir sempat diskeneriokan sebuah pesawat yang dikemudikan dengan velositas yang tinggi tak mampu menghancurkan gedung reaktor nuklir. 


Sistem pertahanan berlapis ini merupakan protipe dari progres pengembangan teknologi nuklir yang modern dan futuristik. BATAN sebagai sebuah lembaga yang memiliki otoritas penuh dalam hal optimalisasi sumber energi nuklir sempat mengkomparasikan bahwa paranoid masyarakat akan radiasi yang dihasilkan dari ledakan reaktor nuklir di Jepang beberap bulan lalu tidak sebesar ketakutan yang digembar-gemborkan masyarakat Indonesia. padahal jelas sekali, reaktor nuklir di Jepang yang berjarak ribuan mil dari Indonesia belum berdampak luas secara psikologis bagi masyarakat Jepang. apalagi, komponen reaktor nuklir yang dikembangkan di Fukushima, Jepang adalah produk teknologi lama yang hanya diperbaharui keselamatan dan keamananya. Berbeda dengan Indonesia, Indonesia mengembangkan dan mencontohkan prootipe reaktor nuklir yang canggih, modern, dan futuristik. Jadi jelaslah, Jepang yang sempat dilanda bencana dahsyat yang sempat diwartakan media massa dunia terkait ledakan beberapa reactor nuklirnya ternyata tidak separah yang dibayangkan.
Dengan sistem pertahanan berlapis, disusun secara sistematis mula dari dinding gedung reaktor berbahan dasar beton yang telah diperkuat logam setebal 1 Meter, kemudian rangkaian batang baja berdiameter 6 Cm sebagai protektif bejana pengungkung cungkup silinder baja setebal 4 Cm. Dibagan dalam, terdapat dindng pelindung dengan sistem penguat logam yang terbuat dari batang baja berdiameter 6 Cm dan diperkuat beton setebal 1,5 Meter. Kemudian, perisai bilogis beton berlapis timbal yang berbahan dasar beton setebal 1,2 Meter dan dilapisi beton baja dua sisi setebal 2,5 Cm. Selain itu, bejana reaktor dibuat dari baja berkekuatan tinggi setebal 10 sampai 20 cm ditambah elemen bakar, dinding pelapis dan dinding atas. Dengan sistem pertahanan berlapis yang dikembangkan oleh BATAN sebagai energi alternatif menghadapai tantangan global. Menurut ATOMOS (Media Informasi IPTEK Nuklir) komponen-komponen reaktor nuklir harus memenuhi standar kualitas yang tinggi dan dapat diandalkan, sehingga kemungkinan kegagalan komponen tersebut sangat kecil, diantaranya : pompa-pompa, katup-katup, pemipaan, tangki, instrumentasi dan kontrol.
Maka dari itu, BATAN kiranya perlu memberikan edukasi dan sosialisasi bahwa nuklir itu tidak seberbahaya darI yang diperkirakan. Apalagi, melihat kasus Jepang yang kebocoran gedung reaktor nuklir yang tidak memakan satupun korban akibat radiasi yang dipancarkan dari kebocoran reaktor nuklir. Selain itu pula, efek dari radiasi nuklir ini pun tidak seberbahaya akibat yang ditImbulkan dari merokok. Secara stokastik, efek yang ditimbulkan dari radiasi nuklir hanyalah kematian dari sel syaraf sensorik seperti mengingat. Namun, memang secara deterministik efek yang dapat ditimbulkan dari radiasi nuklir ini bisa berupa kanker dsb. Namun, tetap saja efek radiasi nuklir ini tidak seberbahaya dari racun yang diendap dalam sebatang rokok.
Selain itu, optimasi pemanfaatan sumber energi nuklir pun tidak hanya sebatas pembangkit listrik. Namun, secara parsial tujuan dari pembangunan IPTEK nuklir ini adalah memberikan dukungan nyata untuk pembangunan nasional. Pembangunan litbangyasa IPTEK nuklir diarahkan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapkan masyarakat dan pembangunan.
Konkritisasi dari pembangunan IPTEK nuklir ini pun tak hanya terbatas pada sektor energi kelistrikan saja, melainkan bisa bermanfaat pula pada pengembangan bdang pertanian dan peternakan, bidang energi tentunya, bidang teknologi informasi dan komunikasi beserta bidang kesehatan dan obat-obatan. contoh beberapa produk pertanian dan peternakan hasil penelitian BATAN menggunakan teknik nuklir seperti ; padi, kedelai, kapas, suplemen pakan ternak dan pengawet bahan makanan. bibit unggul, pupuk hayati dan tanaman lorong teknologi serangga mandul, pengawetan bahan pangan, teknologi suplemen pakan ternak ruminansia, teknologi reproduks ternak, koksivet supra'95 adalah hasil riset BATAN dengan metoda teknik kenuklran sebagai optimasi sumber energi nuklir yang bertujuan untuk damai. di bidang kesehatan, renografm pesawat sinar-X, thyroid uptake, brachetherapy, perlatan proteksi radiasi, KY radiofarmatika dan sediaan senyawa bertanda, jaringan bilogi steril, protokol pemeriksaan dalam kedokteran nuklir. Itulah sederet hasil riset dan pengembangan BATAN terhadap nuklir.
Dalam perspektif lingkungan hidup pun, eksplorasi nuklirpun tidak sekotor gas buang yang dihasilkan oleh Batu Bara ataupun geothermal lainnya sebagai pusat eksplorasi sumber energi. bahkan, Dr. Ferhat Aziz pun mengakui bahkan gas buang yang dihasilkan dari sisa pembakaran uranium sebagai bahan bakar sumber energi nuklir pun hanya sebesar 0 %. artinya, sama sekali tdak ada gas buang yang dihasilkan oleh nuklir ini. bahkan, dinegara-negara maju seperti Spanyol, AS, Cina pusat eksplorasi nuklir pun seringkali dijadikan tempat wisata. di Spanyol, reaktor nuklir berdekatan dengan wisata pantai di Spanyol yang sangat terkenal. ini membuktkan betapa otimasi tenaga nuklr ini memang cukup aman.
Lantas, siapkah Indonesia mengeksplorasi nuklir ini dengan tepat guna ?

Sebenarnya, pembangunan reaktor nuklir ini sudah cukup lama dikembangkan. Hal ini terbukti dengan disusunya peraturan pemerintah No. 65 Tahun 1958 yang membentuk dewan tenaga atom dan lembaga tenaga atom pada tahun 1950-an. Secara kualitas, SDM Indonesia sudah cukup mampu terbukti dengan didirikannya beberapa reaktor nuklir di Pulau Jawa yang merupakan karya anak bangsa. Yang menjadi persoalan adalah, kesigapan pemimpin negara untuk responsif dan berpikir secara visioner betapa optimasi dan alternasi sumber energi begitu urgensi bagi masyarakat Indonesia. Selama ini, sumber energi yang digunakan Indonesia masih terpaku pada pembangkit energi tenaga air (darat), angin, geothermal. dan sebagai alternasi, nuklir dan surya adalah kedua sumber energi yang paling potensial untuk dikembangkan. Tinggal bagaimana, pengembangan IPTEK yang sesuai perkembangan zaman kendati riset dan pengembangannya dilakukan sekarang (2011) namun mekanisme, komponen dan instalasinya paling tidak harus relevan dengan puluhan tahun kemudian. Hal ini setidaknya akan membuat diversifikasi dan koversi sumber energi, efisiensi harga listrik, ketahanan energi nasional, lingkungan hidup dan penerapan teknologi. Jadi, jangan lagi berpikir paranoid bahwa nuklir ini dijadikan sebagai alat/senjata pemusnah massal seperti yang dikembangkan oleh Iran dan Korea Utara. Nuklir yang dikembangkan oleh Indonesia, Ukraina, Cina, Rusia, dan yang lainnya adalah pemanfaat nuklir dengan misi damai.

Demi pemerataan pembangunan pun setelah Jawa, BATAN menargetkan pengembangan IPTEK nuklir ini akan coba dikembangkan di Bangka agar suplai energinya bisa disebarkan ke Sumatera dan Jawa. Selain itu, diharapkan kedepan dengan semakin berkembangnya IPTEK pemanfaat nuklir tidak hanya sebatas yang disebutkan diatas, pemikiran futuristik dengan konsep dan mekanisme yang efisien akan mampu memoderasi iptek nuklr menjad bahan bakar kendaraan bermotor yang 0 % gas buang. Tak hanya itu, pengembangan secara berkala paling tidak dirasakan hampir ke seluruh penjuru negeri. Dengan demikian, kekisruhan akan sentralisasi pembangunan perlahan dikentaskan dengan pengembangan IPTEK dan pembangunan nasional secara berkala ke penjuru negeri. Semoga.

Media Center SEA Games berdiri megah
Banyak pihak bersyukur, Indonesia terpilih menjadi host pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara ke-26 pada 2011. Sementara dilain pihak terus bergolak dengan rentetan aksi dan demonstrasi yang menentang pagelaran akbar tersebut dihelat di Palembang. Namun, dengan beragam komplikasi yang mendera sukan ke-26 tahun 2011 shahih berlangsung tatkala opening ceremony pada 11-11-11 yang kebanyakan orang dijadikan sebagai angka sakral resmi dibuka oleh orang nomor satu seantero negeri, Susilo Bambang Yudhoyono.

Angka 11-11-11 sengaja dipilih pihak panitia (Inasoc,pen) sebagai pintu gerbang Asean melihat Palembang sebagai salah satu tuan rumah pagelaran akbar olahraga terbesar di Asia Tenggara. Namun, tak ada penjelasan ilmiah yang diurai dan dipaparkan menjadi satu fakta konkrit kenapa 11-11-11 ini menjadi begitu sakral bagi sebagian orang. Tak jarang, banyak orang melakukan satu peristiwa irasional dalam menyambut penanggalan Georgia tersebut. Tetahunan yang kerap memunculkan konfigurasi angka senada pada hari, bulan dan tahunnya ini menjadi vonis tersendiri betapa kemunculan angka senada akan berimplikasi pada satu hal yang positif.

Tak jauh berbeda dengan kebanyakan orang. Acara sekaliber SEA Games pun pemilihan angka senada dalam penanggalan Georgia seolah menjadi signifikansi yang berimplikasi positif terhadap keberlangsungan acara. Interrelasinya yang irasional kerap menjadi bumbu kesuksesan berlangsungnya sebuah acara yang dihelat pada konfigurasi penanggalan. Sebagai penguak asumsi diatas, perhelatan Olimpiade Beijing 2008 yang dihelat pada 08-08-08 menjadi enerji positif yang mampu mengangkat moral atlet Cina dalam mengusung tema, Juara Umum!. Walhasil, entah hanya sebuah kebetulan belaka ataukah memang konfigurasi penanggalan menjadi magnet tersendiri mampu memberikan semacam cakra bagi atlet Cina hingga mimpi melampaui hegemoni Amerika Serikat dalam pesta olahraga sejagat terwujud. Fenomenal.

Itu tadi Cina. Jauh ribuan mil melewati laut Cina Selatan terdapatlah sebuah Negara yang katanya dianugerahi kekayaan alam melimpah ruah lantaran dilewat garis ekuator yang membuat topografi Negara ini menjadi sangat indah nan perawan. Statistik demografi yang potensial (berdasarkan sensus penduduk terakhir bencana demografi Indonesia pada rentang usia muda mengalami peningkatan signifikan), hingga kalkulasi peningkatan ekonomi tercepat didunia (data Bank Dunia yang memaparkan 7 negara yang bakal mendorong perekonomian dunia sebelum 2025 antara lain, Cina, Indonesia, India, Brazil, Rusia, Korea Selatan) membuat Negara ini secara statistik sangat kaya dan potensial. Namun, secara realistik pola gradasi tak akan selalu berbanding lurus.

penunjukan Indonesia selaku tuan rumah dipahami akan banyak menuai rentetan problematic lantaran pra-perheletan SEA Games ini ditabuhkan sudah banyak bumbu-bumbu tak sedap yang menyelimuti. Mulai dari kasus Wisma Atlet yang mendorong anggota DPR Fraksi P-Demokrat, Nazaruddin mendekam dibalik jeruji besi hingga molornya pembangunan arena SEA Games yang morat-marit. Tak ayal, banyak wartawan dari penjuru dunia menyatakan bahwa SEA Games ke-26 terkesan semenjana.

Kita tentu tak bicara soal statistic ataupun asumtif. Kroscek lapangan atas statement pedas wartawan Filipina yang mengutarakan keluhannya dalam perhelatan SEA Games ini perlu dilakukan. Sebulan sebelum pagelaran, arena SEA Games dibeberapa titik memang memrihatinkan. Tengok saja, beberapa titik hingga hari-H pelaksanaan SEA Games terlihat gundukan tanah merah dan sampah abadi areal rawa-rawa yang menggunung. Inasoc tentu bergerak cepat, langkah pragmatis dilakukan.memutar akal ditengah waktu yang kian mepet dilanjutkan. Tumpukan tanah, sampah yang menggunung, rumah-rumah kumuh dipinggiran bilangan K.H Bastari ditutup dengan triplek berbalutkan spanduk pernak-pernik SEA Games. Sepanjang jalan bilangan K.H. Bastari ditutupi spanduk-spanduk SEA Games demi menutup-nutupi kota sang penyelenggara SEA Games. Tak hanya itu, menyoal kemiskinan yang bergulir di wilayah yang dulunya dikenal sebagai daerah tempat jin buang anak ini tampak jelas ditampilkan dalam layar lebar SEA Games. Segregasi social masyarakat Palembang menjadi tema utama SEA Games 2011 ini. tak ayal, slogan SEA Games United and Rising (Bersatu dan Bangkit) menjadi suksesor tersendiri atas gembar-gembor tri sukses Kota Palembang pasca SEA Games.

Masyarakat disekitaran Jakabaring yang terkenal dengan wilayah kumuh diharapkan mampu menumbuh kembangkan industri kreatif. Namun, bak diujung tanduk nasib sebagian warga Jakabring diseputaran kompleks olahraga megah di Palembang membisu. Seolah iri dengan suka cita tetangga sebelah yang bersorak sorai dengan dunianya, sementara dirumah sendiri warga kawasan kumuh jakabaring harus tetap bergulat dengan kerasnya zaman sembari memikirkan “besok makan apa”.

Ironi, karunia Tuhan kepada Indonesia ternyata tak mampu membuat warga sejahtera kehidupannya. Mereka bukan tak mampu membela atlet dibawah panji bumi pertiwi. Namun, mereka harus survive memikirkan urusan perut yang tak kenal kompromi. Lantas, dengan berakhirnya pagelaran SEA Games yang sebagian besar media menyebutnya spektakuler mampu menggiring mereka keluar dari kemiskinan. Ingat, tri sukses SEA Games, Sukses Penyelenggaraan, Sukses Prestasi, Sukses Ekonomi. Berani jaminkah pemerintah Sumsel mengangkat mereka keluar dari kawasan kumuh Jakabaring dengan kenyang dan suka cita yang mereka bawa.

Kita lihat nanti. Suksesi SEA Games yang berdampak langsung bagi mereka apakah butuh waktu 1 Bulan, 1 Tahun, 5 Tahun, 10 Tahun atau tidak. Kelak nantinya, tri sukses SEA Games ini menjadi jargon dari prasasti semata.




Menyeka keringat beberapa saat pasca berdesak-desakan menuju pintu masuk yang luasnya hanya 1x2 Meter. Belum lagi ditambah tumpah ruahnya mahasiswa yang antusias menyaksikan hiburan berkelas di Unsri. kegamangan tersebut membuncah dengan kehadiran sosok pria dengan balutan topi hitam plus polo shirt senada dengan logo sepatu merah menjulang keatas disamping kanan muncul dibalik bahu peserta khas dengan kumis tebal dan senyum sumringah yang mampir menyapa audiens yang berjumlah 3000-an mahasiswa tersebut. Andy F Noya, host talk show terkenal di Metro TV, Kick Andy singgah di Unsri kampus Indralaya dalam rangka acara off air Kick Andy yang ditenggarai sebagai aksi ulang tahun Metro TV yang ke-11.

Menghadirkan dua narasumber inspiratif, Iwan Setyawan dan Wahyu Aditya Kick Andy versi citizenship ini tetap atraktif sekalipun riuh suara yang menggaduhi auditroum Unsri Indralaya menggema. disela-sela tugasnya menjadi “tukang tanya” dalam acara tersebut tampak kekhasan Andy F Noya yang kelahiran Papua ini mampu mengocok perut audiens dengan banyolan yang ia kreasikan sendiri. berbekal pengalaman sehari-hari, ia mampu membuat sebuah peristiwa hidup yang biasa-biasa saja menjadi satu bentuk kelucuan yang mampu mengundang tawa. Terang saja, Andy F Noya kenyang pengalaman. Hidup susah semasa kecil mampu menginspirasi dirinya sendiri hingga berkiprah di ranah jurnalistik sebagai pemimpin redaksi Metro TV dan Media Indonesia.

Bercerita tentang pengalaman hidupnya, Andy F Noya yang dilahirkan dari kelaurga sederhana tidak main-main dengan pencapaian yang ia rengkuh hingga saat ini. tekadnya untuk melanjutkan sekolah di Jakarta tak berbuah manis seperti yang diharapkan. Mengawali jenjang pendidikan di sekolah teknik (ST) setingkat SMP di Jakarta, pendidikan ia lanjutkan ditingkat STM. Namun, seperti diungkapkanya kepada audiens Andy sempat mengalami dilemma ketika menghadapi realita hidup yang berada dipersimpangan jalan. Antara realitas dan semuitas. Ikut alur atau menelusuri lentera jiwa. Hobinya yang cenderung ke dunia sastra semasa mengenyam pendidikan di STM membuat ia benar-benar menghadapi dilemma yang sangat kentara. Lagi-lagi untung, pasca menyelesaikan STM ia mendapatkan kans untuk melanjutkan di perguruan tinggi di Sekolah Publisistik. Bak habis gelap terbitlah terang mahakarya Raden Ajeng Kartini, Andy F Noya menemukan jalannya. Persolan dana yang sofestikatif membuat ia menyelesaikan studinya lebih awal alias drop out.

Bermuara dari sekelumit polemic yang mewarnai hidupnya, ditabuhlah gendering acara off air Kick Andy di Unsri ini dengan mengusung tema “Lentera Jiwa”. Sebuah tema yang mengundang pesona inspiratif bagi pendengarnya agar dapat memilih jalur hidup yang hakiki ketimbang memilih alur hidup yang senada seperti kebanyakan orang.

Sedikit bercerita, pemilihan tema lentera jiwa ini dimaksudkan bagi kawula muda agar dapat memilih jalan hidupnya dengan penghitungan matang. Tidak hanya sekedar “ikut-ikutan” atau karena teman dan lain sebagainya. Melainkan, pilihan hidup yang harus ditentukan harus sesuai dengan sanubari yang tertanam dalam kalbu.

Tak ayal, hal ini menggugah Iwan Setyawan. Melakoni pekerjaan lama di negeri Paman Sam membuatnya geram dan ingin kembali ke negeri tempat ia dimana dilahirkan. Pria alumnus Institut Teknologi Bandung bahkan melontarkan satu perangai yang membuat ia sangat apresiatif dengan pemuda yang kreatif dalam membangun bangsa. Terlahir dari sebuah keluarga kecil yang sederhana, Iwan Setyawan bertekad untuk menjadi lebih baik dari sang Bapak yang kala itu masih banting tulang dengan mobil angkot setia yang menemani saban hari mencari nafkah.

                Iwan Setyawan lantas menemukan lentera jiwanya dan berkarir dengan matang di negeri John F Kennedy tersebut. namun, hal tersebut tetap tak membuatnya bangga dan puas hati. Ia tetap mawas diri dan menyatakan keinginanya yang kuat untuk kembali ke tanah air. Rasa rindu yang mendalam dan kecintaanya terhadap Indonesia ia putuskan, setelah Sembilan tahun mengais rezeki ditanah orang, ia kembali ke Indonesia.

                Di Indonesia ia tak henti-hentinya memberikan motivasi kepada kawula muda yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa untuk terus kreatif dan memilih pilihan hidup sesuai dengan lentera jiwa yang tertanam dalam sanubari. Tak pelak, kegiatan off air Kick Andy di Unsri ini pun adalah rangkaian panjang komitmen dirinya untuk terus berbagi pengalaman kepada generasi muda.

                Tak hanya itu, tokoh muda yang penuh inspirasi turut pula dihadirkan dalam pagelaran akbar yang dihelat atas kerja sama pihak Metro TV dan BEM Unsri ini. penampilan nyentrik lengkap dengan kostum kospley ala Star Wars sempat mencuri perhatian dengan mengundang tawa 4000-an audiens yang memadati auditorium Unsri Indralaya. Tak ayal, rasa penasaran siapa sosok dibalik kostum aneh yang datang menyapa ribuan audiens tersebut melintas. Dialah, Wahyu Aditya animator muda yang lama malang melintang dalam dunia desain grafis nasional. Bergelut dengan dunia animasi mampu membuatnya keliling dunia. Hanya bermodalkan sebuah pensil dan selembar kertas mampu ia sulap menjadi karya spektakuler yang mengundang decak kagum bagi setiap insan yang melihatnya.
               
                Sempat pula ia presentasikan beberapa karyanya yang telah mendapat respons positif dari berbagai instansi ini. berkat bakat dan kemampuannya, sejumlah instansi pemerintahan bahkan menggunakan jasanya dalam mendesain logo futuristik nan elegan bagi penggunanya. Satu lagi, sosok muda kreatif yang dapat dijadikan panutan. Semua itu dilakukan lantaran dirinya mengikuti lentera jiwanya yang memang kental dengan dunia animasi. Bergelut didunia yang dijadikan sebagai sumber mata pencaharian utama memang tak banyak dijamah oleh kebanyakan orang. Tekad dirinya untuk ‘berbeda’ dari kebanyakan orang membawanya hingga kesuksesan yang ia dapat sekarang ini. bahkan, bermula dari kesenangan semata kemudian digeluti secara serius, Wadit begitu ia kerap disapa mendirikan sekolah animasi bagi peminat yang ingin mendalami dunia animasi.

                Kendati meski terhalang oleh instalator listrik auditorium yang sudah termakan zaman, tetap tak mengurangi antusias mahasiswa untuk tetap serius duduk dibangku masing-masing mendengarkan pengalaman inspiratif yang kedua narasumber sampaikan. selepas paparan yang disampaikan oleh kedua narasumber berikan, Andy F Noya yang memang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa sejak awal langsung dikerubuti sembari curi-curi foto berdua dengan sang bintang. Penta Boyz grup akapela menutup manis pagelaran inspiratif dengan dendang lagu diiringi dengan instrument suara mulut alias akapela. Kejarlah lentera jiwamu.

Follow by Email