Iri Warga Kumuh Terhadap SEA Games

on Minggu, 27 November 2011

Media Center SEA Games berdiri megah
Banyak pihak bersyukur, Indonesia terpilih menjadi host pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara ke-26 pada 2011. Sementara dilain pihak terus bergolak dengan rentetan aksi dan demonstrasi yang menentang pagelaran akbar tersebut dihelat di Palembang. Namun, dengan beragam komplikasi yang mendera sukan ke-26 tahun 2011 shahih berlangsung tatkala opening ceremony pada 11-11-11 yang kebanyakan orang dijadikan sebagai angka sakral resmi dibuka oleh orang nomor satu seantero negeri, Susilo Bambang Yudhoyono.

Angka 11-11-11 sengaja dipilih pihak panitia (Inasoc,pen) sebagai pintu gerbang Asean melihat Palembang sebagai salah satu tuan rumah pagelaran akbar olahraga terbesar di Asia Tenggara. Namun, tak ada penjelasan ilmiah yang diurai dan dipaparkan menjadi satu fakta konkrit kenapa 11-11-11 ini menjadi begitu sakral bagi sebagian orang. Tak jarang, banyak orang melakukan satu peristiwa irasional dalam menyambut penanggalan Georgia tersebut. Tetahunan yang kerap memunculkan konfigurasi angka senada pada hari, bulan dan tahunnya ini menjadi vonis tersendiri betapa kemunculan angka senada akan berimplikasi pada satu hal yang positif.

Tak jauh berbeda dengan kebanyakan orang. Acara sekaliber SEA Games pun pemilihan angka senada dalam penanggalan Georgia seolah menjadi signifikansi yang berimplikasi positif terhadap keberlangsungan acara. Interrelasinya yang irasional kerap menjadi bumbu kesuksesan berlangsungnya sebuah acara yang dihelat pada konfigurasi penanggalan. Sebagai penguak asumsi diatas, perhelatan Olimpiade Beijing 2008 yang dihelat pada 08-08-08 menjadi enerji positif yang mampu mengangkat moral atlet Cina dalam mengusung tema, Juara Umum!. Walhasil, entah hanya sebuah kebetulan belaka ataukah memang konfigurasi penanggalan menjadi magnet tersendiri mampu memberikan semacam cakra bagi atlet Cina hingga mimpi melampaui hegemoni Amerika Serikat dalam pesta olahraga sejagat terwujud. Fenomenal.

Itu tadi Cina. Jauh ribuan mil melewati laut Cina Selatan terdapatlah sebuah Negara yang katanya dianugerahi kekayaan alam melimpah ruah lantaran dilewat garis ekuator yang membuat topografi Negara ini menjadi sangat indah nan perawan. Statistik demografi yang potensial (berdasarkan sensus penduduk terakhir bencana demografi Indonesia pada rentang usia muda mengalami peningkatan signifikan), hingga kalkulasi peningkatan ekonomi tercepat didunia (data Bank Dunia yang memaparkan 7 negara yang bakal mendorong perekonomian dunia sebelum 2025 antara lain, Cina, Indonesia, India, Brazil, Rusia, Korea Selatan) membuat Negara ini secara statistik sangat kaya dan potensial. Namun, secara realistik pola gradasi tak akan selalu berbanding lurus.

penunjukan Indonesia selaku tuan rumah dipahami akan banyak menuai rentetan problematic lantaran pra-perheletan SEA Games ini ditabuhkan sudah banyak bumbu-bumbu tak sedap yang menyelimuti. Mulai dari kasus Wisma Atlet yang mendorong anggota DPR Fraksi P-Demokrat, Nazaruddin mendekam dibalik jeruji besi hingga molornya pembangunan arena SEA Games yang morat-marit. Tak ayal, banyak wartawan dari penjuru dunia menyatakan bahwa SEA Games ke-26 terkesan semenjana.

Kita tentu tak bicara soal statistic ataupun asumtif. Kroscek lapangan atas statement pedas wartawan Filipina yang mengutarakan keluhannya dalam perhelatan SEA Games ini perlu dilakukan. Sebulan sebelum pagelaran, arena SEA Games dibeberapa titik memang memrihatinkan. Tengok saja, beberapa titik hingga hari-H pelaksanaan SEA Games terlihat gundukan tanah merah dan sampah abadi areal rawa-rawa yang menggunung. Inasoc tentu bergerak cepat, langkah pragmatis dilakukan.memutar akal ditengah waktu yang kian mepet dilanjutkan. Tumpukan tanah, sampah yang menggunung, rumah-rumah kumuh dipinggiran bilangan K.H Bastari ditutup dengan triplek berbalutkan spanduk pernak-pernik SEA Games. Sepanjang jalan bilangan K.H. Bastari ditutupi spanduk-spanduk SEA Games demi menutup-nutupi kota sang penyelenggara SEA Games. Tak hanya itu, menyoal kemiskinan yang bergulir di wilayah yang dulunya dikenal sebagai daerah tempat jin buang anak ini tampak jelas ditampilkan dalam layar lebar SEA Games. Segregasi social masyarakat Palembang menjadi tema utama SEA Games 2011 ini. tak ayal, slogan SEA Games United and Rising (Bersatu dan Bangkit) menjadi suksesor tersendiri atas gembar-gembor tri sukses Kota Palembang pasca SEA Games.

Masyarakat disekitaran Jakabaring yang terkenal dengan wilayah kumuh diharapkan mampu menumbuh kembangkan industri kreatif. Namun, bak diujung tanduk nasib sebagian warga Jakabring diseputaran kompleks olahraga megah di Palembang membisu. Seolah iri dengan suka cita tetangga sebelah yang bersorak sorai dengan dunianya, sementara dirumah sendiri warga kawasan kumuh jakabaring harus tetap bergulat dengan kerasnya zaman sembari memikirkan “besok makan apa”.

Ironi, karunia Tuhan kepada Indonesia ternyata tak mampu membuat warga sejahtera kehidupannya. Mereka bukan tak mampu membela atlet dibawah panji bumi pertiwi. Namun, mereka harus survive memikirkan urusan perut yang tak kenal kompromi. Lantas, dengan berakhirnya pagelaran SEA Games yang sebagian besar media menyebutnya spektakuler mampu menggiring mereka keluar dari kemiskinan. Ingat, tri sukses SEA Games, Sukses Penyelenggaraan, Sukses Prestasi, Sukses Ekonomi. Berani jaminkah pemerintah Sumsel mengangkat mereka keluar dari kawasan kumuh Jakabaring dengan kenyang dan suka cita yang mereka bawa.

Kita lihat nanti. Suksesi SEA Games yang berdampak langsung bagi mereka apakah butuh waktu 1 Bulan, 1 Tahun, 5 Tahun, 10 Tahun atau tidak. Kelak nantinya, tri sukses SEA Games ini menjadi jargon dari prasasti semata.

0 comments:

Follow by Email