Amburadulisme Manajemen Aktifitas Mahasiswa

on Rabu, 30 November 2011
vakumnya aktifitas politik kampus di FH Unsri dituding sebagian mahasiswa BEM FH Unsri bak macan ompong yang tak lagi garang. butuh waktu sekitar lima bulan lebih detak henyak kehidupan politik kampus kembali dikibarkan. penggiatnya mencoba berupaya agar FH Unsri tak lagi kehilangan taringnya seperti halnya isu yang merebak.
diawali dengan proses peralihan gubernur BEM FH Unsri periode 2010/2011, M. Suherial Amin banyak pihak yang menyayangkan pilihan Aldo (sapaan akrabnya) meninggalkan BEM sebelum pemilihan raya digulirkan. tak pelak, hal ini menimbulkan sedikit polemik akan responsibilitas Aldo selaku gubernur mahasiswa. namun, hingga kini keterangan yang bersangkutan tak berujung pada solusi konkrit terhadap BEM FH itu sendiri.
tak ayal, pasca peninggalan tampuk kepemimpinan mahasiswa praktis BEM FH mengalami kekosongan pemimpin. tak hanya itu, kendala teknis turut pula menghiasi awan kelabu BEM FH yang semakin diujung tanduk. sejumlah pegiat BEM yang rata-rata angkatan 2007 kebanyakan telah memasuki semester akhir menjelang kelulusan.
hal tersebut berimplikasi pada kurang berpengalamanya regenerasi BEM dalam memposisikan diri sebagai Ormawa yang membawahi BO-BO dalam lingkup fakultas hukum. praktis, pasca peninggalan sesepuh dari BEM tak ada kegiatan besar yang diagendakan BEM FH Unsri. denyut kehidupan kampus benar-benar mati. kegiatan kampus kebanyakan bertumpu pada beberapa BO yang masih tetap eksis menyemarakan FH.
menurut hemat saya, hanya satu kegiatan yang diselenggarakan BEM FH yang dapat dikatakan adalah titik balik eksistensi BEM. Kongres Luar Biasa ISMAHI kemarin dapat dikatakan merupakan perhelatan sukses ditengah kegamangan BEM. kendati dihalang kendala baik teknis maupun non teknis yang mengganggu jalannya acara. akan tetapi, overall kegiatan KLB Ismahi berlangsung sukses.
satu catatan saya selama mencermati perjalanan BEM. pasca transisi kepemimpinan pra-pemira dari Aldo selaku gubernur mahasiswa ke Henrico (PJS BEM) praktis kecil kemungkinan mekanisme kontrol buat sang PJS. tak ayal, kalangan mahasiswa menuding pasca kehilangan taring BEM kini hanyalah sebuah kamuflase dibalik perkumpulan organisasi eksternal dalam internal kampus. tak jadi soal sebenarnya bilaman sekretariat pegiat BEM diisi oleh oknum organisasi eksternal. namun yang menjadi pertanyaan, kenapa sekretariat BEM seolah menjadi sarang HMI. disini saya mulai mengendus aroma politik kampus yang tidak menyenangkan. betapa fungsi sekretariat BEM digunakan bagi pegiat BEM dimanfaatkan guna mencapai tujuan yang dicita-citakan, alih-alih menyelenggarakan kegiatan sekretariat BEM bermetamorfosa sebagai ajang kongkow-kongkow.
sedikit menuai keprihatinan akan nasib BEM kedepannya. namun, kegundahan itu perlahan sirna dengan digulirkanya pemilihan umum mahasiswa FH Unsri. kamis (24/11) menjadi tanggal bersejarah dalam kampus FH. betapa tidak, untuk kali pertama pemira dihelat kendati molor hampir selama lima bulan.
yang mencalonkan ada dua pasang. KPU Pemira FH Unsri melansir, calon nomor urut 1 diduduki Almeidy dan calon nomor urut 2 dibukukan Henrico (PJS BEM). secara track record, keduanya memang belum memliki reputasi organisasi yang menjulang. Almeidy sebelum menjabat sebagai ketua Olympus pun belum begitu bersinar. terbukti, Olympus layaknya BEM yang hanya hidup pada saat proses pengenalan kampus (P2K) kepada mahasiswa baru digulirkan. kemudian, Henrico. menurut catatan saya, reputasi organisasi Henrico dapat dikatakan lebih laik secara kuantitas. henrico pernah bergabung bersama Olympus, Alsa, BEM, HMI. namun, isu yang menerpa dirinya dapat menjadi boomerang karirnya di pentas politik kampus FH Unsri. akan tetapi, saya menghimpun keduanya masih terlalu muda untuk memimpin BEM FH Unsri.
dengan sekelumit dan kompleksitas permasalahan yang luas, BEM dapat menjadi objek vital kekisruhan.
pada akhirnya, saya mencermati adanya satu bentuk disharmonisasi manajemen aktifitas mahasiswa. hilangnya skrip AD/ART BEM FH Unsri memungkinkan akan terjadinya indikasi penyelewengan lantaran tak ada landasan hukum yang mendasarinya. hal ini linear dengan berita yang merebak bahwa pemira 2011 akan segera digulirkan. pemira yang pertama menurut calon nomor urut 2 telah terjadi indikasi kecurangan. asumsinya, KPU dan calon nomor urut 1 kongkalikong dalam proses penghitungan suara. walhasil, dimotori PD III, Rd. M. Ikhsan mengamini permintaan calon nomor urut 2 untuk menggelar pemira ulang. terlihat, yang sebenarnya kongkalikong itu siapa ?





0 comments:

Follow by Email