Etnosentrisme Sepakbola, LPI sebagai produk Imajiner yang kurang representatif

on Minggu, 30 Oktober 2011
Bagi Indonesia, cabang olahraga semacam sepakbola bukan merupakan sebuah hal baru dan asing ditelinga masyarakat Indonesia. Mengapa ? buntut sejarah panjang persepakbolaan Indonesia adalah jawabannya. Tengok saja, sederet prestasi besar pernah ditorehkan anak-anak bumi pertiwi di pentas sepakbola regional bahkan mendunia. Sudah cukupkah, hal tersebut menginterpretaskan bahwa cabang olahraga yang popular hamper diselurh penjuru dunia ini dikenal masyarakat Indonesia ?
Terang saja, prestasi spektakuler menjadi negara pertama yang mencicipi aroma kompetisi sekaliber Piala Dunia, membuat negeri dengan total penduduk terbesar ke-empat di dunia ini patut berbangga hati dan berbesar diri. Betapa tidak, sejak pertama kali Piala Dunia (dulu bernama Julis Rimet Cup) digelar, hanya Indonesia dan Mesir yang menjadi negara non eropa/amerika selatan yang turut serta menjadi kontestan awal-awal Piala Dunia mulai digeber. Tahun 1938, adalah tahun bersejarah yang sangat mengaharukan sekalgus membanggakan yang pernah diukir oleh negara ini. Meskipun pada saat itu, negara ini masih menajdi wilayah kolonialisme oleh Belanda namun tetap saja prestasi tersebut bukan prestrasi biasa yang hanya patut diacungi jempol.
Melainkan, perlu apresiasi yang sangat tinggi bagi pahlawan olahraga bumi pertiwi. Betapa tidak, pemain-pemain yang mengisi skuadra timnas indonesia (dulu bernama Hindia Belanda) sebagian besar adalah bumiputera ( anak pribumi ) beserta ekspatriat asal Belanda dan Timur Asing seperti Cina.
Jelas, ini merupakan riwayat singkat yang cukup bermakna bagi kebesaran nama Indonesia di dunia internasional. Tak satupun negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara ini pernah mencicipi kompetisi Piala Dunia baik itu pra-kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan.
Bahkan, FIFA (Induk Organisasi Sepakbola Dunia) menagkui bahwa negara Indonesia adalah negara pertama di Asia yang menjadi kontestan Piala Dunia 1938. sungguh membanggakan bukan. Negara-negara yang pernah mencibir eksistensi sepakbola Indonesia, tentu saja iri melongok prestasi komplet anak-anak Indonesia di dunia.
Namun, sejarah tinggalah sejarah. Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, tak satupun prestasi dunia yang membanggakan kembali ke pangkuan bumi pertiwi ini di dunia Internasional. Terkecuali, gelar-gelar "kecil" pelipur lara di pentas sepakbola regional dan kontinental. Selebihnya Indonesia lebih 'rajin' menjadi penonton dan penggembira di pentas sepakbola Internasional.
Lantas, untuk kembali mengembalikan ‘pamor’ dan gairah persepakbolaan nasional yang mulai agak kendur (ditilik dari rentetan prestasi dua decade terakhir), maka dari itu PSSI membuat proyek untuk memantau potensi pemain-pemain muda berbakat yang kelak diharapkan akan mampu membawa Garuda ke pentas dunia (lagi). Diawali dari proyek liga perserikatan, kemudian disusul Galatama (Liga Sepakbbola Utama). Selama periode Perserikatan dan Galatama bisa dikatakan prestasi timnas Indonesia mengalami signifikansi yang cukup menggembirakan. Diantaranya, medali perunggu Asian Games 1958 dan Perempatfinal Olimpiade Melbourne 1956 yang ketika itu sungguh fenomenal tatkala Indonesia berhasil menahan imbang Uni Sovyet yang terkenal sebagai raja sepakbola dengan sosok seorang Lev Yashin lewat skor kacamata alias draw 0-0.
Memasuki era 1990-an, prestasi Timnas dijajaran kontinental sudah mulai surut. Indonesia gembosi lantaran krisis ekonomi yang semakin berkecamuk. Disamping Indonesia masih sibuk mengurus sector ekonomi, dengan majunya perkembangan persepakbolaan dibeberapa negara di Asia Timur, seperti Jepang, Cina dan Korea Selatan. Asal punya usul, ketiga negara Asia Timur tersebut sungguh berhasil meningkatkan prestasi tim nasional mereka lewat kompetisi regular yang dikelola secara professional dan representative.
Coba lihat, Jepang dengan produk J-League, Korsel dengan produk K-League dan Cina dengan China Super League (CSL) adalah sekelumit progres yang cukup sukses mengembalikan gairah prestasi negara tersebut yang sedang melempem. Tak ayal, hingga kini ketiga liga ternama di Asia tersebut masuk dalam jajaran liga elit dunia yang diminati banyak pemain dunia berkualitas.
Hal inilah yang membuat PSSI geram dan dengan segera membentuk kompetisi serupa untuk diimplementasikan di Indonesia. Hingga pada akhirnya, musim 1994/1995 adalah musim perdana yang dinamai liga sepakbola profesional Indonesia yang tidak mengandalkan dana APBD sebagai asupan protein klub dalam mengarungi kompetisi nasional.

0 comments:

Follow by Email