on Minggu, 30 Oktober 2011
Jadwal Pemilihan Umum Mahasiswa yang tertera dalam agenda KPU tanggal 21 Desember 2010 telah banyak menuai protes dari berbagai kalangan mahasiswa. Ada yang menyangsikan bahwa, pencatutan penanggalan hari dimana pemungutan suara dilaksanakan adalah sebuah kesalahan fatal Pemilu Mahasiswa tahun ini.
            Inikah awal mula dari bobroknya kausalitas substansi dan implementasi konsep demokrasi tataran kampus kebanggaan kita, Universitas Sriwijaya !
            Anggota KPU (Komisi Pemilihan umum) yang beranggotakan sejumlah mahasiswa yang berasal dari berbagai elemen kampus ini adalah pion-pion yang mengurusi tetek bengek kebutuhan pemilihan mahasiswa . Mulai dari, sosialisasi melalui pamflet-pamflet, spanduk, baliho, penyusunan DPT (Daftar Pemilih Tetap), mengatur semua proses kampanye baik itu dialogis dan monologis serta pendistribusian surat suara ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) menjadi responsibillity KPU sebagai penyelenggara pemilihan umum.
            Layaknya hidup disebuah negara, setiap rakyatnya berhak menyalurkan aspirasi dan hak politik mereka untuk ikut serta dan diakui eksistensinya sebagai sebuah komunitas masyarakat demokratis. Namun, apabila hal tersebut dilimpahkan dengan segala ketentuan dan proses yang nyaris sama dengan regulasi the real KPU (KPU Pemilu Indonesia) kedalam konteks mahasiswa, sulit untuk diterka sejauh mana komunitas masyarakat demokratis itu bisa menggerakkan goyangannya. Penetapan DPT yang super ambruk, ditambah lagi dengan regulasi yang duper bobrok semakin memperparah kondisi implementatif konsep demokrasi ke kampus.
            Akarnya bermuara pada penetapan tanggal pencontrengan yang ditetapkan diluar kalender proses akademik Universitas Sriwijaya berlangsung. Berdasarkan lansiran kalender akademik Universitas Sriwijaya http://www.unsri.ac.id/ tahun akademik 2010/2011 ditetapkan bahwa proses akademik di Universitas Sriwijaya semester ganjil berakhir pada tanggal 20 Desember. Dari ketentuan yang telah berlaku jauh-jauh hari sebelum KPU mengadakan rapat paripurna untuk menetapkan penetapan tanggal pencontrengan, tak ada alasan bagi KPU untuk tidak mengetahui jikalau tanggal pencontrengan terhalang proses akademik.
            Entah, siapa yang mesti mempertanggung jawabkan hasil dari ketidak valid-an penetapan tanggal pencontrengan ini. Yang jelas, ada aktor intelektual yang berkutat dibalik retorika diplomatis yang normatif dibelakang semua regulasi berlabel konstitusi itu.
            Lantas, kenapa KPU tidak serta merta mendengarkan konsensus dan lontaran suara mahasiswa non-politisi kampus yang menjadi objek lumbung suara bagi elit kampus tersebut. KPU seakan bergumam dalam hati, berdiam diri tanpa ada klarifikasi dan verifikasi. Keluhan demi keluhan baik dilontarkan secara verbal didepan KPU maupun non verbal melalui media social network seolah tak digubris oleh KPU. Yang ada adalah statement menyesakkan dada bahwa keputusan KPU tidak boleh ditangguhkan. Kekolotan KPU jelas terlihat dari klarifikasi yang penulis petik dari salah satu komentar anggotanya di salah satu social network. Seharusnya sebagai lembaga publik yang berdiri diatas kepentingan khalayak tak semestinya KPU melangkah dengan bongkahan pijakan kaki yang begitu dalam. Keraguan akan kompetensi mereka dalam mengisi jabatan publik konteks mahasiswa terbersit pasca mendapati penetapan tanggal pencontrengan. Inilah lemahnya sistem ke-mahasiswaan Universitas Sriwijaya. Dua lembaga kemahasiswaan tertinggi di kampus, Badan Eksekutif dan Dewan Legislatif dinilai terlalu lebay dalam mengusung otoritasnya. Siapa sangka jikalau, ketua KPU dipilih oleh Presiden Mahasiswa yang lama. Siapa bisa mengira jikalau ini adalah konspirasi politik dari sistem formil yang ada di kampus kuning kebanggaan kita ini.
            Pada akhirnya inilah, muqaddimah runtuhnya konsep demokrasi Universitas Sriwijaya yang dibawa pahlawan-pahlawan reformasi temporer kepada seluruh mahasiswa di seluruh Indonesia.
            Dalam pesta demokrasi Unsri untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa periode 2011/2012 menghadirkan dua bakal calon yang akan saling bersiteru memperebutkan tahta nomor satu ala mahasiswa. Dihadirkannya, EMAS motto yang diusung calon Aziz(FKIP)-Agung(FISIP) dan BISA motto yang diusung Dedi(FT)-Safriadi(FKIP) diharapkan mampu membawa atmosfer persaingan yang cukup kompetitif dengan tetap mengindahkan kaedah (rule of law) yang telah ditentukan.
            Rangkaian proses pemublikasian kedua bakal calon ini dikonversikan kedalam sebuah dialogis dan monologis terbuka kepada mahasiswa. Tak pelak, ekspektasi dari rangkaian ini menyeruak begitu tinggi (high expectation) sehingga memunculkan idiom baru bahwa mereka akan mentransformasi semua kebutuhan mahasiswa adalah hal yang paling utama.
            Namun, rangkaian proses kampanye calon presiden mahasiswa dan wakil presiden mahasiswa tersebut tidak dimanifestasikan kedalam praktik politik yang inovatif. Mekanisme praktik politik usang kembali diperagakan kedua calon. Bualan demi bualan yang dilontarkan dua calon ini dalam sebuah dialog dan monolog seolah telah terhipnotis daya magis birokrat dalam pemilihan umum yang sesungguhnya (Pemilu Indonesia). Umbar janji, tak dipungkiri lagi menjadi hal yang lumrah dalam setiap pemetaan konsep demokrasi yang ada. Padahal, inilah tempat kita (Mahsiswa, red) untuk belajar konsep pemilihan demokratis yang sesungguhnya. Proses berdemokrasi yang benar-benar diisi jiwa-jiwa negarawan. Bukan dengan mengukuhkan diri dan mengusung bualan janji yang over limit itu seperti halnya politikus. Di kampuslah awal mula sistem demokrasi yang lebih persuasif itu bisa di pelajari. Jikalau konteksnya demikian, jebolan-jebolan birokrat kampus ini akan terus meregenerasi dan mewariskan sistem yang impotence yang saat ini diaplikasikan di Indonesia. Bukan tidak mungkin, calon-calon koruptor negeri ini juga akan dihasilkan dari sebuah sistem yang berada dalam satu garis yang hierarkis tersebut.
            Petikan kalimat “mewujudkan tataran kampus yang baik” dan sebagainya adalah penggalan janji-janji calon birokrat kampus ini dengan logat gramatikal yang cukup doplomatis, memancarkan sorotan mata tajam bak memang betul-betul hidup untuk mendedikasikan dirinya demi kepentingan mahasiswa (Alturisme) adalah benang merah kekusutan konsep demokrasi ala kampus ini.
            Padahal, ada cara lain yang lebih ‘elegan’ untuk menakarkan eksistensi masing-masing calon. Bukan dengan cara mencle-mencle umbar janji tersebut. Mahasiswa Unsri sudah semakin cerdas dan kritis untuk memfiltrasi semua bualan demi bualan yang dilontarkan masing-masing calon. Adagium talk less do more seharusnya menjadi nota kesepahaman (MoU) yang sah agar setiap progres yang diluncurkan oleh Presiden mahasiswa terpilih bukan sekadar omong kosong. Memang benar-benar terbukti validitasnya. Ada cara yang lebih inovatif untuk menggeser paradigma kampanye pemilu dari stereotype umbar janji, goresan prestasi konkret calon presiden mahasiswa boleh jadi menjadi produk penjualan kompetensi dirinya. Karena, manifestasi pemilu adalah pencarian pemimpin yang tolok ukurnya adalah kompetensi. Sudah selayaknya, parameter konstruksi kompetensi bukan diukur dari subtansi retorika tapi prestasi semiotika.
            Kegamangan penyelenggaraan Pemilu mahasiswa kita tampak jelas dari grassroot-nya. Dalam pencalonan presiden dan wakil presiden mahasiswa tidak ada rangkaian fit and proper test masing-masing bakal calon. Dari awal, semenjak program selektifitasnya saja sudah sulit untuk dikatakan pemilu mahasiswa tahun ini bakalan berkualitas. Selain itu, tingkat partisipasi aktif mahasiswa untuk sadar pemilu pun masih jauh dari ekspektasi yang didengungkan. Indikatornya klasik, “apa yang bisa mereka (presma terpilih) lakukan buat mahasiswa ?
            Implikasinya, pemilu mahasiswa periode 2011-2012 tak menunjukkan greget aroma dan kualitas berpolitik-nya. Calon nomor urut 1 ‘didepak’ dari persaingan politik kampus. Kronologisnya, Capresma dan Wapresma atas nama Aziz-Agung ini telah melakukan pelanggaran dengan tidak mengikut sertakan dirinya dalam rangkaian kampanye yang telah direncanakan. Sehari menjelang proses pemungutan suara tepatnya tanggal 20 Desember 2010 untuk mendeterminasikan siapa pemenang pemilu mahasiswa itu tersiar kabar menghebohkan yang datang silih berganti melalui pemublikasikan lewat pesan singkat (Short Message Service-SMS) maupun pemberitahuan (notice) lewat Social Network.  Surat keputusan (SK) Nomor : 013/B/SK/KPU/XI/2010 sontak begitu heboh dalam sebuah situs jejaring. Pesan yang dikirimkan oleh beberapa rekanan mahasiswa itu datang dan silih berganti masuk dalam akun jejaring sosial yang digunakan penulis. Disana tertera, butir-butir pelanggaran yang dilakukan calon urut nomor satu atas nama Aziz-Agung.
            Penetapan tanggal pemungutan suara pada 21 Desember 2010 yang kontroversial itu pun urung digelar. Tak ada kepastian yang jelas, KPU membatalkan pemilu mahasiswa hanya berinteraksi melalui dunia maya. Sampai saat ini belum ada upaya konkret dari KPU untuk memverifikasi keputusan ‘dunia maya’ tersebut dan dikonversikan ke dunia nyata. Bahkan, hari dimana seharusnya pemungutan suara itu dilakukan. Istana mahasiswa (Sekretariat BEMU) pun seolah bungkam. Entah, kemana informasi kepastian dan kejelasan pembatalan pemilu mahasiswa ini bisa didapat.
            Dapat disimpulkan, aktifitas politis mahasiswa lingkungan Unsri hanyalah sebuah omong kosong belaka. Bukan pesimistis cuma agak sedikit miris. Proses pendemokrasian melalu media per-politikan bukan lagi memunculkan aksi kesatuan mahasiswa, tapi malah menjurus perpecahan

Semenjak pemerintah kota Palembang menggulirkan proyek Bus Rapid Transit (BRT) Transmusi di Kota Pempek, sedikit banyak telah mengubah citra dunia transportasi Palembang. betapa tidak, secara fisik moda transportasi ini bisa dikatakan yang paling modern nan canggih yang lalu lalang di jalanan kota Palembang. bentuknya yang dinamis plus didukung dengan fasilitas yang mampu menambah kenyamanan warga dalam menggunakan transportasi publik.;sebut saja, ketersediaan AC (Air Conditioner), kursi penumpang yang representatif (cukup manusiawi), dan masih banyak lagi.

Membawa Perubahan
program yang berafiliasikan BRT Transjakarta atau yang lebih dikenal dengan Busway ini terang saja sedikit membawa perubahan kondisi per-transportasian kota Palembang. betapa tidak, kondisi angkutan publik kota Palembang sebelum Transmusi dihadirkan begitu memperihatnkan. ambil contoh ; Bus Kota dan Angkutan Kota (Angkot). Di Palembang, trayek Bus Kota dibagi kedalam beberapa lajur. 
(i) Perumnas-Kertapati, Perumnas-Plaju (Pulag-pergi) dari sekitar 30-an Bus Kota yang beroperasi di Trayek ini, hanya sedikit saja Bus Kota yang dikategorikan layak pakai. kebanyakan dari Bus Kota yang beroperasi di trayek ini sudah melewati waktu operasional yang ditentukan. selain itu, kondisi fisiknya yang kurang layak ditambah lagi dengan perilaku sopir yang buruk semakin nyata mendeskripsikan betapa kondisi Transportasi Palembang ini cukup memperihatinkan.
(ii) Alang-alang Lebar-Plaju, Alang-alang Lebar-Kertapati, untuk trayek yang satu ini mungkin bisa dikatakan yang terbaik dari 4 trayek besar perngoperasian angkutan publik di Kota Palembang. secara fisik, kondisi Bus untuk trayek ini jauh lebih baik dari trayek-trayek lainnya.
(iii) Pusri-Plaju, Pusri-Kertapati. kedua trayek yang identik dengan bus kota berwarna merah ini bisa dikatakan cukup parah. betapa tidak, kondisnya nyaris sama dengan trayek dari arah perumnas. kondisi fisik, wallahualam. teman-teman bisa lihat sendiri di lapangan.
(iv) dan yang terakhir trayek Bukit Besar-Ampera. trayek ini bisa dikatakan yang paling memperihatinkan diantara trayek-trayek lainnya. kondis fisik bus yang berwarna bru ini sungguh miris. kaca-kaca pecah, tempat duduk yang tidak manusiawi, serta perilaku sopirt yang ugal-ugalan menambah catatan panjang carut marut kondisi transportasi kota Palembang.
Berjajar : Pengadaan Unit Bus Transmusi
lantas, untuk memecah plemik mengenai angkutan publik yang nyaman dan aman, pemkot Palembang merencanakan untuk membuat moda transportasi baru yang dicontek dari BRT Transjakarta. tak pelak, ratusan milyar dana digelontorkan untuk membangun shelter pemberhetian Transmusi disepanjang jalan protokol kota Palembang plus pengadaan unit bus yang diproduksi oleh pabrikan mobil asal Korea Selatan,  Hyundai. hingga saat ini, sudah tiga koridor BRT Transmusi yang dibangun di Bumi Sriwijaya. Koridor I, Alang-alang Lebar-Ampera. Koridor II, Sako-PIM, dan Koridor III PS-Plaju. walhasil, data jumlah bus yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber ini, berjumlah sekitaran 50-an unit Bus.
lalu, sudah cukupkah nominal-nominal diatas mampu memecah masalah transportasi kota Palembang?

Inkonsistensi Penjadwalan

Sudah hampir satu tahun lebih usia BRT Transmusi hadir di kota Palembang. namun, ada saja kritikan yang datang dari segenap warga yang menyayangkan optimalisasi BRT Transmusi. ambil contoh, visi Transmusi yang ingin menjadi moda angkutan publik yang nyaman dan aman tampaknya perlu dikaji ulang oleh Pemkot selaku penanggung jawab dari proyek ini. betapa tidak, tidak tersistematisasinya penjadwalan keberangkatan BRT Transmusi membuat penumpang yang hendak menggunakan Transmusi terpaksa mengurungkan niatnya lantaran interval waktu antara satu bus dengan bus lainnya tidak menentu. kemudian, problem transportasi Palembang ini seringkali mengalami kerusakan. contohnya saja, pintu otomoatis (Automatic Door) yang menjadi ciri khas Transmusi sering mengalami kemacetan. selain itu, pengalaman pribadi penulis yang baru saja dialami tatkala menaiki moda transportasi Transmusi (Selasa, (3/5) 2011) adalah pendingin ruangan (AC) yang digunakan didalam Transmusi rusak. terbayang, begitu pengapnya suasana dalam Transmusi kala itu yang lembab disertai cuaca panas yang menyengat plus ramainya penumpang yang menyesaki space Transmusi.



namun, tetap saja. Transmusi adalah primadona transportasi kota Palembang. betapa tidak, saban hari hampir puluhan ribu penumpang menggantungkan diri pada moda transportasi yang satu ini. ada yang menggunakannya sebagai akses untuk menuju tempat kerja, sekolah ataupun kuliah. bahkan, ada pula yang menggunakannya hanya sekedar berkeliling menikmati kota Palembamg. tak ayal, keuntungan yang dihasilkan dari Transmusi diperkirakan menyentuh angka 25 Juta rupiah per-hari. tidak heran bila mendengar torehan fantastis dari moda transportasi yang terbilng cukup muda. semenjak awal kehadirannya, transportasi satu ini memang didamba-dambakan oleh banyak kalangan. Eddy Santana, Walikota Palembang pun pernah mencba secara langsung menaiki moda transportasi ini tanpa exposure media dan pengawalnya. dengan bebas, Ia menaiki transmusi layaknya penumpang biasa lainnya. dharapkan kedepannya, pihak terkait yang bertanggung jawab atas proyek ini mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan yang saat ini dialami. semoga kedepan, transportasi ini bisa menjadi transportasi yang futuristik, modern, canggih, aman dan nyaman. (Selasa (3/5) 2011 Pukul 20.45 WIB)
tak salah bila stereotype satu ini disematkan kepada bangsa yang besar lantaran nama besar pahlawan revolusi zaman dahulu. menurut sensus penduduk dunia terakhir, populasi penduduk Indonesia bertengger di posisi emapt dunia, dibawah Cina, India, dan AS. negara yang secara geografis terletak di wilayah asia bagian tenggara serta diapit oleh dua benua besar dunia, Asia dan Oceania serta dua buah samudera terluas dunia yakni Samudera Hindia dan Pasifik membuat posisi Indonesia cukup strategis dijadikan sebagai pusat bisnis dunia.
gaung, selat malaka yang menjadi pintu gerbang perdagangan utama dunia membuat negara ini cukup strategis dalam pengembangan dan investasi modal usaha. 

bcara soal populasi. jangan ditanya. negara yang wilayahnya sebagian besar perairan ini, dihuni hampir 230 juta penduduk. wow ! dengan luas wilayah yang 'hanya' 2 juta kilometer persegi kalkulasi paling realistis adalah setiap 1 meter jengkal tanah Indonesia dihuni 10 orang. 
 selain itu, khasanah budaya indonesia yang begitu kaya turut menambah panjang cerita manis bangsa ini. dari sabang sampai merauke, dari talaud sampai pulau rote ribuan etnis dan suku serta ratusan ras di muka bumi ini mendiami wilayah yang katanya paling subur didunia ini. ratusan etnis tersebut lantas terbagi dalam lima ketegori kepercayaan yang diakui secara konstitutf di Indonesia yakni, Islam, Nasrani, Hindu, Budha dan Konghucu. 


kelima agama tersebut muncul lantaran, secara historis negara ini dimasuki oleh ribuan pedagang dari berbagai ras dan agama yang berbeda. masing-masing dari mereka, tak hanya berdagang melainkan turut pula menyebarkan agama yang mereka anut masing-masing. oleh sebab itulah kenapa, etnisitas dan religiusifis negara ini begitu berwarna. 

nah, bila dikomparasikan diantara kelima agama yang diakui menurut per-UU-an tersebut, maka Islamlah yang menjadi basis agama terbesar di negara ini. predikat sebagai negara dengan mayortas penduduk muslim terbesar di dunia sudah cukup mendindikasikan bahwa hampir 70% lebih masyarakat Indonesia mempercayai agama yang dibawa oleh salah satu manusia paling berpengaruh didunia sepanjang masa menurut majalah TIME, Nabi Muhammad SAW. 
besarnya komuntas muslim di Indonesia ini ternyata membawa dampak berupa proses jlbabisasi. terang saja, dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menjadi sumber hukum utama Hukum Islam mewajibkan setiap wanita muslim untuk menutup aurat mereka. salah satu caranya, ya dengan jilbab. tak pelak, besarnya komunitas muslim negara ini membuat pameo bahwa Indonesia adalah bangsa jilbab adalah sebuah paradigma yang cukup rasional. betapa tdak, hampir setiap jenjang kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek sudah menyertakan rambut mereka dengan tutup kepala khas ISLAM, yakni jilbab.


Satu baris Berjilbab

penulis acap kali menemukan fakta unik seputar judul tulisan ini. suatu ketika, penulis hendak pergi kuliah dengan menggunakan moda transportasi Palembang, Transmusi. seperti biasa, tak ada hal yang menarik perhatian lantaran melihat wanita-wanita tanggung berjilbab. variannya pun tampak biasa, ada yang memakai bentuk jilbab langsung (tanpa bros) ada pula yang memakainya super ribet (harus diputar sana..diputar sini) lalu ada yang memakainya hingga wajahnya tertutup dan besar kemungkinan penulis bakal menemui wanita berjilbab yang menutupi seluruh tubuhnya. 
namun, dari kebiasaan yang sudah menjadi kebudayaan tersebut tanpa disadari penulis bahwa transmusi yang digunakan penulis tak disangka penuh oleh sekumpulan kaum hawa. biasa ? tentu saja. tak ada yang harus dimaknai secara berbeda. mereka cantik, wallahualam. itu relatif. namun, yang paling mengejutkan adalah satu moda transportasi publik milik pemkot palembang tersebut diisi kaum hawa berjilbab. sempat tertawa kecil melihat fakta tersebut secara langsung. sayang, momen langka seperti itu tak sempat diabadikan penulis. 

sontak saja, ketika penulis menoleh kearah samping yang terlihat adalah sekumpulan kaum hawa yang asyik dengan "BB"nya masing-masing namun berjilbab. melihat kearah depan, yang tampak adalah kaum hawa berjilbab yang tengah melamun (entah apa yang jadi objek lamunannya). melongok keujung barisan wanita-wanita yang berdiri lantaran tak ada lagi tempat duduk yang terisisa yang tampak hanyalah wanita-wanita berjilbab.
ternyata eh ternyata.. INDONESIA as a JILBAB NATION !


Bagi Indonesia, cabang olahraga semacam sepakbola bukan merupakan sebuah hal baru dan asing ditelinga masyarakat Indonesia. Mengapa ? buntut sejarah panjang persepakbolaan Indonesia adalah jawabannya. Tengok saja, sederet prestasi besar pernah ditorehkan anak-anak bumi pertiwi di pentas sepakbola regional bahkan mendunia. Sudah cukupkah, hal tersebut menginterpretaskan bahwa cabang olahraga yang popular hamper diselurh penjuru dunia ini dikenal masyarakat Indonesia ?
Terang saja, prestasi spektakuler menjadi negara pertama yang mencicipi aroma kompetisi sekaliber Piala Dunia, membuat negeri dengan total penduduk terbesar ke-empat di dunia ini patut berbangga hati dan berbesar diri. Betapa tidak, sejak pertama kali Piala Dunia (dulu bernama Julis Rimet Cup) digelar, hanya Indonesia dan Mesir yang menjadi negara non eropa/amerika selatan yang turut serta menjadi kontestan awal-awal Piala Dunia mulai digeber. Tahun 1938, adalah tahun bersejarah yang sangat mengaharukan sekalgus membanggakan yang pernah diukir oleh negara ini. Meskipun pada saat itu, negara ini masih menajdi wilayah kolonialisme oleh Belanda namun tetap saja prestasi tersebut bukan prestrasi biasa yang hanya patut diacungi jempol.
Melainkan, perlu apresiasi yang sangat tinggi bagi pahlawan olahraga bumi pertiwi. Betapa tidak, pemain-pemain yang mengisi skuadra timnas indonesia (dulu bernama Hindia Belanda) sebagian besar adalah bumiputera ( anak pribumi ) beserta ekspatriat asal Belanda dan Timur Asing seperti Cina.
Jelas, ini merupakan riwayat singkat yang cukup bermakna bagi kebesaran nama Indonesia di dunia internasional. Tak satupun negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara ini pernah mencicipi kompetisi Piala Dunia baik itu pra-kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan.
Bahkan, FIFA (Induk Organisasi Sepakbola Dunia) menagkui bahwa negara Indonesia adalah negara pertama di Asia yang menjadi kontestan Piala Dunia 1938. sungguh membanggakan bukan. Negara-negara yang pernah mencibir eksistensi sepakbola Indonesia, tentu saja iri melongok prestasi komplet anak-anak Indonesia di dunia.
Namun, sejarah tinggalah sejarah. Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, tak satupun prestasi dunia yang membanggakan kembali ke pangkuan bumi pertiwi ini di dunia Internasional. Terkecuali, gelar-gelar "kecil" pelipur lara di pentas sepakbola regional dan kontinental. Selebihnya Indonesia lebih 'rajin' menjadi penonton dan penggembira di pentas sepakbola Internasional.
Lantas, untuk kembali mengembalikan ‘pamor’ dan gairah persepakbolaan nasional yang mulai agak kendur (ditilik dari rentetan prestasi dua decade terakhir), maka dari itu PSSI membuat proyek untuk memantau potensi pemain-pemain muda berbakat yang kelak diharapkan akan mampu membawa Garuda ke pentas dunia (lagi). Diawali dari proyek liga perserikatan, kemudian disusul Galatama (Liga Sepakbbola Utama). Selama periode Perserikatan dan Galatama bisa dikatakan prestasi timnas Indonesia mengalami signifikansi yang cukup menggembirakan. Diantaranya, medali perunggu Asian Games 1958 dan Perempatfinal Olimpiade Melbourne 1956 yang ketika itu sungguh fenomenal tatkala Indonesia berhasil menahan imbang Uni Sovyet yang terkenal sebagai raja sepakbola dengan sosok seorang Lev Yashin lewat skor kacamata alias draw 0-0.
Memasuki era 1990-an, prestasi Timnas dijajaran kontinental sudah mulai surut. Indonesia gembosi lantaran krisis ekonomi yang semakin berkecamuk. Disamping Indonesia masih sibuk mengurus sector ekonomi, dengan majunya perkembangan persepakbolaan dibeberapa negara di Asia Timur, seperti Jepang, Cina dan Korea Selatan. Asal punya usul, ketiga negara Asia Timur tersebut sungguh berhasil meningkatkan prestasi tim nasional mereka lewat kompetisi regular yang dikelola secara professional dan representative.
Coba lihat, Jepang dengan produk J-League, Korsel dengan produk K-League dan Cina dengan China Super League (CSL) adalah sekelumit progres yang cukup sukses mengembalikan gairah prestasi negara tersebut yang sedang melempem. Tak ayal, hingga kini ketiga liga ternama di Asia tersebut masuk dalam jajaran liga elit dunia yang diminati banyak pemain dunia berkualitas.
Hal inilah yang membuat PSSI geram dan dengan segera membentuk kompetisi serupa untuk diimplementasikan di Indonesia. Hingga pada akhirnya, musim 1994/1995 adalah musim perdana yang dinamai liga sepakbola profesional Indonesia yang tidak mengandalkan dana APBD sebagai asupan protein klub dalam mengarungi kompetisi nasional.
Untuk lebih mengakrabkan telinga masyarakat akan sumber energi pembangkit listrik alternatif yang aman dan tdak berpolusi. Unt Kerja Sama FH Unsri berinisiatif untuk menyelenggarakan sosialisasi dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). kegatan ini betujuan untuk mengakrabkan telinga masyarakat terutama kalangan akademisi betapa Nuklir sebagai energi alternatif futuristik yang aman dan tdak polutif. 

perihal apa? untuk yang satu ini, Dr. Ferhat Aziz selaku ketua BATAN angkat bicara. dirinya mengaku bahwa saat ini pengembangan energi alternatif selain panas bumi atau yang lazim disebut enrgi geothermal sudah sangat urgen bagi masyarakat Indonesia. Tambah Ferhat, saat ini Indonesia memang dianugerahi Sumber daya alam (SDA) yang begitu melimpah. termasuk, energi mineral. menurut data yang dipaparkan beliau, Indonesia saat ini tengah menduduki posisi kedua sbeaga negara dengan cadangan energi geothermal terbesar kedua didunia. namun, meskipun Indonesia dikauruniai SDA yang begitu melimpah, tidak serta merta hal tersebut akan bermplikas positif terhadap semakin mudahnya negara ini dalam mengeksplorasi sumber energi bagi kesejahteraan amsyarakat. asumsi dasar yang dipaparkan beliau pada saat presentasinya menyebutkan bahwa kebutuhan masyarakat akan energi yang dikoneversikan ke sumber energi listrik adalah sebesar 100.000 Megawatt. namun, yang hanya bisa dihasilkan oleh cadangan energi panas bumi (Geothermal) di Indoensia hanya sebesar 10.000 Megawatt. walhasil,tinggal 90.000 Megawatt lagi yang mesti dieksplorasi. 

nah, salah satu caranya adalah mengeksplorasi sumber galian energi baru yang bisa dijadikan pusat pengembangan energi aletrnatif. sumber energi tersebut adalah Nuklir. bila mendengar kata Nuklir, yang terlintas dibenak kita adalah Bahaya, Kematian dan lain sebagainya. bukan tanpa alasan, pemberitaan media massa yang memberangus otak masyarakat dengan ketkautan dan bahaya yang luar biasa menjadi salah satu contohnya. selain itu, pengembangan teknologi nuklir yang dilakukan oleh Chernobyl pada masa perang dingin yang memakan korban hampir 60 orang semakin menambah paranoid masyarakat dengan stereotipe "BERBAHAYA''. namun, Dr. Ferhat Aziz membuka mata sebagian akademisi yang hadir pada sosialisasi BATAN bekerja sama dengan UKJ FH Unsri tersebut. betapa tidak, bila pengembangan teknologi nuklir yang dimanfestasikan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan komponen dan sistem pertahana berlapis. dijamin, gedung reaktor nuklir yang dijadikan sebagai pusat eksplorasi tenaga nuklir bakal berjalan aman. beliau bahkan sempat mencontohkan betapa sebuah pesawat yang dikemudikan dengan velositas yang tinggi tak mampu menghancurkan gedung reaktor nuklir. 


sistem pertahanan berlapis ini merupakan protipe dari progres pengembangan teknologi nuklir yang modern dan futuristik. Dr. Ferhat Aziz sempat mengkomparasikan bahwa paranoid masyarakat akan radasi yang dihasilkan dari ledakan reaktor nuklir di Jepang tidak sebesar ketakutan yang digembar-gemborkan masyarakat Indonesia. padahal jelas sekali, reaktor nuklir di Jepang yang berjarak ribuan mil dari Indonesia belum berdampak luas secara psikologis bagi masyarakat Jepang. apalagi, komponen reaktor nuklir yang dikembangkan di Fukushima, Jepang adalah produk teknologi lama yang hanya diperbaharui keselamatan dan keamananya. berbeda dengan Indonesia, Indonesia mengembangkan dan mencontohkan prootipe reaktor nuklir yang canggih, modern, dan futuristik.
dengan sistem pertahanan berlapis, disusun secara sistematis mula dari dinding gedung reaktor berbahan dasar beton yang telah diperkuat logam setebal 1 Meter, kemudian rangkaian batang baja berdiamter 6 Cm sebagai prtektif bejana pengungkung cungkup silinder baja setebal 4 Cm. dibagan dalam, terdapat dindng pelindung dengan sistem penguat logam yang terbuat dari batang baja berdiameter 6 Cm dan diperkuat beton setebal 1,5 Meter. kemudian, perisai bilogis beton berlapis timbal yang berbahan dasar beton setebal 1,2 Meter dan dilapisi beton baja dua sisi setebal 2,5 Cm. selain itu, bejana reaktor dibuat dari baja berkekuatan tinggi setebal 10 sampai 20 cm ditambah elemen bakar, dinding pelapis dan dinding atas. dengan sistem pertahanan berlapis yang dikembangkan oleh BATAN sebagai energi alternatif menghadapai tantangan global. menurut ATOMOS (Media Informasi IPTEK Nuklir) komponen-komponen reaktor nuklir harus memenuhi standar kualitas yang tinggi dan dapat diandalkan, sehingga kemungkinan kegagalan komponen tersebut sangat kecil, diantaranya : pompa-pompa, katup-katup, pemipaan, tangki, instrumentasi dan kontrol.
maka dari itu, BATAN kiranya perlu memberikan edukasi dan sosialisasi bahwa nuklir itu tidak seberbahaya dar yang diperkirakan. apalagi, melihat kasus Jepang yang kebocoran gedung reaktor nuklir yang tidak memakan satupun korban akibat radiasi yang dipancarkan dari kebocoran reaktor nuklir. selain itupula, Dr. Ferhat Aziz memaparkan, efek dari radiasi nuklir ini pun tidak seberbahaya akibat yang ditmbulkan dari merokok. secara stokastik, efek yang dtmbulkan dari radiasi nuklir hanyalah kematian dari sel syaraf sensorik seperti mengingat. namun, memang secara deterministk efek yang dapat ditmbulkan dari radiasi nuklir ini bisa berupa kanker dsb. namun, tetap saja efek radiasi nuklir ini tidak seberbahaya dari racun yang diendap dalam sebatang rokok.

selain itu, optmasi pemanfaatn sumber energi nuklir pun tidak hanya sebatas pembangkit listrik. namun, secara parsial tujuan dari pembangunan IPTEK nuklir ini adalah memberikan dukungan nyata untuk pembangunan nasional. pembangunan litbangyasa IPTEK nuklir diarahkan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapkan masyarakat dan pembangunan.
konkritisasi dari pembangunan IPTEK nuklir ini pun tak hanya terbatas pada sektor energi kelistrikan saja, melainkan bisa bermanfaat pula pada pengembangan bdang pertanian dan peternakan, bdang energi tentunya, bidang teknologi informasi dan komunikasi beserta bidang kesehatan dan obat-obatan. contoh beberapa produk pertanian dan peternakan hasil penelitian BATAN menggunakan teknik nuklir seperti ; padi, kedelai, kapas, suplemen pakan ternak dan pengawet bahan makanan. bibit unggul, pupuk hayati dan tanaman lorong teknologi serangga mandul, pengawetan bahan pangan, teknologi suplemen pakan ternak ruminansia, teknologi reproduks ternak, koksivet supra'95 adalah hasil riset BATAN dengan metoda teknik kenuklran sebagai optimasi sumber energi nuklir yang bertujuan untuk damai. di bidang kesehatan, renografm pesawat sinar-X, thyroid uptake, brachetherapy, perlatan proteksi radiasi, KY radiofrmatika dan sediaan senyawa bertanda, jaringan bilogi steril, protokol pemeriksaan dalam kedokteran nuklir. itulah sederet hasil riset dan pengembangan BATAN terhadap nuklir.

dalam perspektif lingkungan hidup pun, eksplorasi nuklirpun tidak sekotor gas buang yang dihasilkan oleh Batu Bara ataupun geothermal lainnya sebagai pusat eksplorasi sumber energi. bahkan, Dr. Ferhat Aziz pun mengakui bahkan gas buang yang dihasilkan dari sisa pembakaran uranium sebagai bahan bakar sumber energi nuklir pun hanya sebesar 0 %. artinya, sama sekali tdak ada gas buang yang dihasilkan oleh nuklir ini. bahkan, dinegara-negara maju seperti Spanyol, AS, Cina pusat eksplorasi nuklir pun seringkali dijadikan tempat wisata. di Spanyol, reaktor nuklir berdekatan dengan wisata pantai di Spanyol yang sangat terkenal. ini membuktkan betapa otimasi tenaga nuklr ini memang cukup aman.
lantas, siapkah Indonesia mengeksplorasi nuklir ini dengan tepat guna ?

Dr. Ferhat Aziz dengan sigap mengatakan bahwa Indonesia sudah sangat siap dalam mengeksplorasi dan mengembangkan nuklir secara mandiri. sebenarnya, pembangunan reaktor nuklir ini sudah cukup lama dikembangkan. hal ini terbukti dengan disusunya peraturan pemerintah no 65 tahun 1958 yang membentuk dewan tenaga atom dan lembaga tenaga atom pada tahun 1950-an. secara kualitas, SDM Indonesia sudah cukup mampu terbukti dengan didirkannya beberapa reaktor nuklir di Pulau Jawa yang merupakan karya anak bangsa.
yang menjadi persoalan adalah, menurut Dr. Ferhat Aziz adalah kesigapan pemimpin negara untuk responsif dan berpikir secara visioner betapa optimasi dan alternasi sumber energi begitu urgen bagi masyarakat Indonesia. selama ini, sumber energi yang digunakan Indonesia masih terpaku pada pembangkit energi tenaga air (darat), angin, geothermal. dan sebagai alternasi, nuklir dan surya adalah kedua sumber energi yang paling potensial untuk dikembangkan. tinggal bagaimana, pengembangan IPTEK yang sesuai perkembangan zaman meskipun rset dan penegmbangannya dilakukan sekarang (2011) namun mekanisme, komponen dan instalasinya paling tidak harus relevan dengan puluhan tahun kemudian. hal ini setdaknya akan membuat diversifikasi dan koversi sumber energi, efisiensi harga listrik, ketahanan energi nasional, lngkungan hidup dan penerapan teknologi. jadi, jangan lagi berpikir paranoid bahwa nuklr ini dijadikan sebagai alat/senjata pemusnah massal seperti yang dikembangkan oleh Iran dan Korea Utara. nuklir yang dikembangkan oleh Indonesia, Ukraina, Cina, Rusia, dan yang lainnya adalah pemanfaat nuklir dengan misi damai.

setelah Jawa, BATAN menargetkan pengembangan IPTEK nuklir ini akan coba dikembangkan di Bangka agar suplai energinya bisa disebarkan ke sumatera dan Jawa. selain itu, diharapkan kedepan dengan semakin berkembangnya IPTEK pemanfaat nuklir tidak hanya sebatas yang disebutkan diatas, pemikiran futuristik dengan konsep dan mekanisme yang efisien akan mampu memoderasi iptek nuklr menjad bahan bakar kendaraan bermotor yang 0 % gas buang.
Coba sekali-sekali anda menyambangi dan menyaksikan dengan teliti stasiun kereta api satu-satunya milik warga Palembang, Stasiun Kertapati.  sekilas, tampak biasa dan lazimnya pemandangan stasiun kereta api yang kumuh dan beraroma batubara legam yang pekat. stasiun yang berlokasi dibilangan Jalan KH. Wahid Hasyim Seberang Ulu Kota Palembang ini merupakan wilayah yang memang kerap kali menjadi daerah rawan kejahatan. angka kriminalitas yang tinggi kerap distereotipkan dengan wlayah yang berdekatan dengan lokas venue SEA Games terbesar di Sumsel ini, Jakabaring.

tak ayal, stigma yang melakat erat dengan wilayah Kertapati yang merupakan disposisi makna kata ‘Kereta Mati’ ini semakin kuat. tak hanya sebagai daerah yang dengan predikat angka krimnalitas tinggi, persoalan kedisiplinan pun kerap kali dikeluhkan sejumlah kalangan terhadap wilayah yang menjad perbatasan antara Kota Palembang dengan Ogan Ilir ini.
bukan tanpa alasan, keberadaan sejumlah pasar, daerah aliran sungai dan lokasi-lokasi peruntukkan umum lainnya kerap kali mengalami disalih fungsi. ambil contoh paling jomplang mengenai perbedaan peruntukkan daerah aliran sungai di wilayah ulu dan ilir.meskipun secara umum, daerah aliran sungai di wilayah Palembang mengalami pergeseran ekosistem dan dijadkan sebagai tempat pembuangan sampah akhir yang paling mutakhir, lantaran sekali buang langsung hilang. namun, perbedaan paling jomplang terletak pada tata kelola daerah aliran sungai di kedua wilayah ini. bila di wilayah ilir, masih banyak DAS yang lumayan bersih dan dikategorikan layak, berbeda halnya dengan ulu. hampir 90% DAS diwilayah ini menjadi TPA paling canggih.
efeknya, kualitas sungai menurun,  bahkan menimbulkan bau yang tak sedap dan tak layak dipandang mata. bukan tanpa alasan, bila beberapa pekan terakhir pemkot mengeluhkan disiplin masyarakat untuk sadar bahwa sungai bukan tempat pembuangan sampah. sungai tempat dimana kita menggantungkan kehidupan. dengan adanya sungai, suplai air secara merata bisa kita dapatkan.untuk warga Palembang, dimana lagi selain sungai musi sebagai sumber utama air yang mereka minum sehari-hari.
memang ada bantuan teknologi yang mampu memfiltrasi kotoran yang terkandung dalam air. namun, bila kadarnya terlalu tinggi. tentu bantuan teknologi tidak serta merta bisa digunakan secara utuh. dampaknya, masyarakat Palembang tidak bisa mengonsumsi air bersih. baik untuk MCK ataupun kebutuhan primer lainnya. ujung-ujungnya pemerintah yang dipersalahkan. padahal, kelakuan dan disiplin warga sendiri yang kerap menjadi ‘donatur’ buruknya kualitas air sungai di Palembang.
Palembang yang dikenal sebagai negeri sembilan sungai kini bergeser menjadi negeri satu sungai. jelas, hingga kini hanya sungai musi yang menjadi satu-satunya sungai yang dijadikan sebagai sumber air bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat Palembang. loh, kan ada sungai ogan ? setali tiga uang. sungai tersebut justru malah penuh dengan kotoran. padatnya pemukiman pinggiran sungai yang kerap menjadikan sungai sebagai pusat kegiatan MCK setiap kepala keluarga lambat laun berujung pada semakin polutifnya sungai tersebut dengan beragam jenis bakteri dan jamur yang sulit untuk dimatikan.
sudah saatnya kita menyayangi sungai kita. lantaran disanalah kita hidup. tanpa air ? bagaimana kita bisa hidup bila tanpa air didepan gelas yang saban hari kita gunakan untuk minum. sebelum ikan betok dan kroni-kroninya mengguat kelak diakhirat, mari kita wujudkan solidaritas antar sesama makhluk hidup yang memegang hak dan meneguhkan kewajiban sebagai khalifah di muka bumi.
Akhir-akhir ini negara tempat kita berpijak, Indonesia tak henti-hentinya diterpa bencana demi bencana yang meluluh lantakan ‘muka’ negeri ini. Selain peristiwa-perisitiwa alam yang memang sudah menjadi takdir Tuhan yang tak dapat dielakkan lagi. Buruknya sistem politik di negeri ini juga aktif memberikan sumbangsihnya menjadi donatur terbesar dalam rangka mengkacau balaukan tatanan negara Indonesia.             Sederet kasus yang sempat menjadi fokus utama media dalam pemberitaannya, sebut saja aliran dana bailout Bank Century yang menyeret kalangan pucuk menteri dan nama besar lainnya dalam kasus ini. Ditahannya mantan ketua KPK, Antasari Azhar yang diduga menjadi otak dibalik meninggalnya Nasruddin dan keterlibatan dirinya dalam cinta segitiga dengan wanita berinisial RN. Lanjut, adanya indikasi mafia peradilan dalam tubuh institusi penegakan hukum di Indonesia. Dan yang paling fenomenal adalah, pengakuan Susno Duadji yang menyeret Bigfish mafia pajak dalam tubuh Ditjen Pajak, Gayus HP Tambunan.
            Gayus Halomoan Partahanan Tambunan, pria kelahiran Jakarta 31 tahun silam ini menjadi news maker paling fenomenal pemberitaannya di media-media lokal dan nasional, bahkan Internasional. Tercatat, banyak kasus Gayus yang kini menjadi sorotan media massa, terlebih ditinjau dari adanya keterlibatan sejumlah elit dalam setiap kasus Gayus yang ia perankan.
            Pria berbadan tambun itu (sesuai namanya ‘Tambunan’), yang ‘hanya’ bekerja sebagai pegawai negeri ditjen pajak golongan III/a ini kiprahnya juga tak sefenemonal sekarang. Tak ada hingar-bingar yang memberitakan bahwa dirinya adalah seorang yang besar. Upeti yang ia hasilkan sebagai pegawai ditjen pajakpun Cuma sebesar 12,1 juta perbulannya. Sebenarnya, gaji yang ia terima itu cukup untuk membiayai keluarga kecilnya yang sebelum singgah dirumah super mewah yang ia miliki di daerah Kelapa Gading itu, dasar sing orangna wae. Manusia memang tidak pernah puas ! barulah dirinya menjadi fokus pemberitaan media tatkala nama dirinya masuk dalam pencatutan sejumlah nama-nama yang disangsikan oleh Susno Duadji menjadi aktor mafia di perpajakan.
            Awal karir Gayus menjadi bak selebriti yang terus dicecar dan disorot dimulai dengan terkuaknya isu yang beredar ‘ada main’ dalam tubuh institusi perpajakan kita itu. Direktorat Pajak disinyalir banyak menghasilkan produk-produk mafia yang cukup mumpuni untuk melumpuhkan stabilitas kas keuangan negara. Karena, pajak adalah salah satu dari penghasilan terbesar yang diraup Indonesia selain fee ekspor/impor dan hibah/bantuan dari luar negeri.
            Diawali dengan sebuah rapat dengar pendapat yang dilaksanakan oleh Komisi III DPR RI kepada Susno Duadji, dirinya bersaksi bahwa Ditjen Pajak sudah tidak bersih lagi dalam artian kredibilitas yang mulai runtuh. Hal ini ia ungkapkan lebih lanjut, adanya bibit-bibit blowfish yang menjamur didalam tubuh institusi tersebut. Terkait masalah ini, Susno menyertakan sejumlah asumsi bahwa seorang Gayus telah ‘menilep’ duit rakyat yang dalam laporan PPATK nominal yang disebutkan mencapai 38 Milyar Rupiah disertai dengan uang dollar Amerika yang jumlahnya ribuan dollar. Tak pelak, hal ini mendapat perhatian sejumlah intitusi terkait yang memiliki otoritas untuk mengurusi sejumlah kesaksian mantan Komisaris Jendral (Komjen) Polri itu.
 Inilah muqaddimah lembaran kisah novel fiksi Gayus dimulai. Adanya konspirasi demi konspirasi yang Gayus kreasikan semakin menambah ruwet permasalahan yang ada. Ramainya pemberitaan seorang Gayus dimedia, diperparah dengan konstelasi dibalik ‘memarnya’ institusi yang telah terkontaminasi oleh Syndrome seorang Gayus.
Kontroversi kepergian dirinya ke Bali tak dipungkiri mampu menyedot sorotan media akhir-akhir ini. Gayus bukan lagi rakyat jelata yang meronta-ronta kepada pemerintah, dirinya berevolusi bak jetsetter yang tindak-tanduknya selalu disorot media. Tak pelak, sejumlah kalangan berasumsi bahwa ada motif terselubung dibalik kepergian Gayus ke Bali. Meskipun, dalam kesaksiannya di muka peradilan (sambil menangis), dirinya menyebutkan bahwa kepergiannya singgah ke Bali  cuma demi menjenguk sang istri dan anak yang telah lama ia tinggalkan. Namun, kalangan teknokrat tak begitu saja percaya apa yang telah dilontarkan oleh Gayus. Alih-alih untuk membela diri, Hendardi (Presidium Setara Institute) malah menduga adanya keterlibatan elit politik dibalik keberangkatan Gayus Tambunan ke Bali. Hendardi mengasumsikan bahwa hal ini adalah konspirasi politik tingkat tinggi yang dilakoni sejumlah elit politik.

Gayus ‘Tampar’ Aparat
Diabadikannya sesosok pria yang tengah bergumam dan serius menyaksikan pertandingan tenis di nusa dua bali, tak pelak semakin memperkeruh suasana yang ada. Pria yang disinyalir memiliki kesamaan fisik dengan Gayus tersebut menimbulkan pertanyaan besar terkait status dirinya yang seorang tahanan bisa keluar dengan bebas malang melintang menebarkan’senyuman’ mautnya. Pertanyaan tersebut mengacu pada, dimana profesionalitas pegawai yang mengawasi tahanan ? dalam pengakuannya, Gayus mengakui bahwa dirinya telah menyuap Kepala Rutan Mako Brimob di daerah Jakarta dengan iming-iming ratusan juta rupiah.
Pokok permasalahan gayus yang bermula pada abu-abunya sistem perpajakan di ditjen pajak kini semakin bias pengentasannya. Hal ini justru, semakin mempersulit instansi terkait untuk menjerat gayus yang gaungnya disebut dimedia disupport oleh beberapa elit politik berpengaruh di republik ini. Ical ditenggarai menjadi otak dibalik kepergian gayus ke bali. Namun, pengusutan motif kepergian gayus yang menyangkut dirinya (ical, red) agak sedikit tersendat, setelah ical aktif mengadukan sejumlah media massa terkait gembar-gembor yang selalu mencitrakan dirinya menjadi aktor dibalik kepergian gayus ke bali. Kepergian Gayus ke Bali mengoyak-ngoyak institusi pengamanan dan pengakan hukum di Indonesia. Institusi kepolisian kini menjadi fokus pemberitaan media terkait kepergian gayus ke bali pada saat masih mengemban label sebagai seorang tahanan di Rutan Mako Brimob. Keberhasilan gayus merengsek keluar dari balik jeruji besi telah membuka mata kita bahwa beginilah sirukulasi tatanan negara kita yang demikian matrealis dan populisnya. Semuanya bisa diatur dengan uang.

banyak faktor yang dapat diajdkan tumpuan untuk mengeskalasi rasio kecerdasan anak. selain karena genital yang Ia bawa kedunia, masih banyak faktor-faktor lain yang bisa dijadikan indikator growing-upnya tingkat kecerdasan anak. banyak yang berasumsi bahwa tingkat kecerdasan seorang anak itu dapat dilakukan dengan cara mengingkatkan frekuensi belajar anak dengan lebih intensif. namun, sebenarnya bila ditelisik lebih jauh ada faktor-faktor lain yang menjadi barometer meningkatnya tingkat kecerdasan anak. salah satunya adalah peran lingkungan. lingkungan memberikan implkasi psiko-sosilogis terhadap kehdupan anak. variasi lingkungan sangat beragam, lingkungan bisa berasal dari dalam keluarga sendiri, kemudian lingkungan sekolah hingga lingkungan sekitar dimana Ia tinggal. secara performatif, hal ini tentu tak dapat ditampikkan bila anak bakal bisa menyelaraskan pelbagai komponen pembentukan karakter dan kecerdasan anak. adapaun, komponen yang lazim dijadikan sebagai tolok ukur adalah kognitif, afektif, dan psikomotorik. selain itu, komponen yang paling umum dalam mengukur tingkat kecerdasan anak dibagi menjadi tiga ranah (i) intellectual quotient, (ii) social quotient (iii) emotional quotient

namun, secara faktual semakin berkembangnya peradaban dunia, secara otomatis dapat dirasakan telah terjadi pergeseran paradigma komunitas modern dalam mendidik dan mengajari anak-anak. bila dahulu, pembelajaran paling utama yang bisa dipetik oleh seorang anak adalah pembelajaran yang diberikan oleh orang tua. namun, paradigma tersebut agak sedikit bergeser lantaran perkembangan zaman. kehidupan masyarakat modern yang menuntut setiap orang itu untuk terus bekerja, bekerja, dan bekerja membuat idiom diatas sudah semakin tidak lagi bisa diaplikasikan. anak tak lagi mendapatkan ASI secara eksklusif dari Ibunya. anak sudah tidak lagi bisa berkumpul dengan ayahnya. padahal sudah jelas, kebutuhan ASI ekslusif dari Ibu kandung anak sangat urgen dalam rangka meningkatkan tingkat kecerdasan dari seorang anak. seharusnya, orang tua harus bisa mendidik anaknya secara intensif sebagai konsekuensi logis pembentukan karakter anak yang bermoral dan cerdas.

Kasus Amoral Anak
Beberapa pekan terakhi public sontak dikagetkan dengan kasus amoral yang melibatkan anak dibawah umur. Yang lebih mengejutkan, biasanya warta nasional memberitakan kasus berupa anak dibawah umur yang menjadi korban, namun posisi tersebut berbalik. Anak dibawah umur justru menjadi tersangka. Tentu ini menjadi perhatian serius komnas perlindungan anak. Tampaknya, sekolah seperti halnya didengung-dengungkan sebagai wahana edukasi bagi anak dalam membentuk karakter dan moral belum begitu optimal. Perlu kesadaran diri yang tinggi agar budi pekerti luhur seperti apa yang dicita-citakan tersebut dapat terealisasi.






on Sabtu, 29 Oktober 2011


Sudah hampir satu tahun saya bersama rekan-rekan lainnya menimba ilmu dan pengalamn di lembaga pers mahasiswa (LPM) Media Sriwijaya. tak pelak, hal ini menjadi cerita ‘kami’ ketika wajah-wajah baru insan pers mahasiswa selanjutnya merajut asa di LPM. singkat cerita, LPM yang didiirkan atas prakarsa beberapa orang mahasiswa serta dosen ini menjadi satu wahana baru bagi mahasiswa FH Unsri dalam mengeksplorasi kemampuan yang terdapat dalam sang empunya individu. tebaran kejadian, peristiwa dirangkum secara lugas, tajam, dan terpercaya lewat seduhan berita yang diterbitkan setiap bulannya melalui koran Media Sriwijaya.
seolah menjadi teman temaram, koran ini menjadi primadona dan ujung tombak kampus dalam mempromosikan ‘pabrik’ yuristen ke pentas nasional. di era yang kompetitif sekarang ini, peran serta mahasiswa menjadi sangat urgensi yang konvergen dengan level akreditasi fakultas dijajaran kampus nasional. kontinuitas terbitan LPM akan berimplikasi pada semakin meningkatnya grafik popularitas fakultas. adalah kru LPM Media Sriwijaya yang duduk di garda terdepan sembari menyaksikan lakon dan perangai awak fakultas (sivitas akademika) dalam memainkan peran sebagai intelektualitas muda. alur berpikirnya coba saya deskripsikan bak sutradara film. LPM saya posisikan sebagai kamerawan, awak fakultas dan mahasiswa menjadi aktor dan aktris yang tengah berlaga di sebuah film. lantas, siapa yang mengisi pos sebagai sutradara. SISTEM. tepat rasanya, bila pilihan sebagai sutradara itu saya jatuhkan pada sistem administrasi kependidikan FH Unsri. karena, dialah yang memberikan skenario kapan mahasiswa harus belajar, kapan mahasiswa harus menghadiri seminar, ketika dosen harus menjalankan tugasnya. itu semua didesain oleh yang namanya sistem administrasi kependidikan. cukup ? jawabannya adalah belum. karena, siapa yang akan memproduseri film yang tengah digarap apabila tidak ada dukungan materil dari sang empunya film. nah, untuk posisi yang satu ini saya letakkan Banggar sebagai penyusun nota keuangan untuk rancangan anggaran pendapatan belanja negara selama setahun kedepan. entah, bagaimana nasibnya bila Banggar tidak menyusun secara sistematis pos dana untuk pendidikan yang sebesar 20% itu. pertanyaannya, masihkah ‘kita’ dapat mengajukan proposal bantuan dana untuk mengefisiensikan program kerja yang telah tersusun secara sistematis tersebut ?
kiranya, perlu dipahami secara parsial saja mengenai pembagian jatah pembuatan film dalam dunia akademia. mengingat, penunjukan secara subjektif tersebut adalah hanya sekedar perumpaan sederhana, dan tidak perlu untuk dikomentari secara berkelanjutan dan dilakukan perdebatan argumentatif. semua itu terserah kepada anda (pembaca) yang budiman. silahkan berpendapat, silahkan beropini, dan silahkan mengkonstruksikan pemikirannya seprovokatif mungkin. namun, dengan catatan hanya untuk dikonsumsi secara pribadi. tidak lebih dan kurang. cukup. titik.
kamerawan yang berposisi men-shoot semua adegan, kejadian, peristiwa dalam proses pembuatan film harus tetap terpanah, terarah atau bahkan terukur dalam mengarahkan mata kamera. perihal apa ? perihal agar mata kamera tetap pada objek yang diarahkan. tidak melenceng, tidak bergeser dan tujuan yang diskenariokan tersampaikan lewat sorotan tajam mata kamera. tidak mengekspos kejadian aneh-aneh, karena profesionalisme dan etika kerja membatasi demikian. proses pembuatan film berbeda dengan proses penyusunan naskah acara infotainment yang mengedepankan sisi lain dari seorang artis.
lalu, apa hubungannya LPM dengan pembuatan film. semua yang saja jelaskan diatas hanyalah merupakan epistoholica belaka. pembaca dan penulis yang budiman boleh bernada sama ataupun berasumsi lain. dan yang menjadi inti dari penulisan tulisan singkat tak syarat makna ini adalah tetap memproporsikan anggota-anggota baru LPM Media Sriwijaya tetap pada fungsi dan job desk yang telah dipaparkan ditengan tulisan. lantas, muncul pertanyaan, sebagai seorang jurnalis minimal harus idealis ? namun, yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah kita harus tetap terus-terusan idealis apabila lingkungan disekitar tidak menuntut anda untuk menjadi idealis. profesionalitas kerjalah yang menjadi titik tolak bermulanya sebuah etos kerja yang kondusif. ketika anda menjadi idealis sendirian, ditengah teman/sejawat anda lainnya tengah bergulat pada era profesionalitasnya dalam narasi kode etik profetik, masihkan anda dibutuhkan ? berpikir positif, mungkin banyak yang belum paham secara konkrit penulisan satu ini. namun, jelaslah bahwa penulisan ini adalah sebuah karya epistoholik yang sedikit dibumbui majas-majas yang penulis ketahui kulit luarnya saja. tak pelak, anggota baru LPM 2011 hendaknya dapat memetik pelajaran dari sekitar. karena, lingkunganlah guru terbaik. lingkungan memiliki anak sungai berupa pengalaman. tanpa adanya lingkungan disekitar anda yang membuat anda terpaksa harus larut dan turut serta didalamnya mustahil ada yang dinamakan dengan pengalaman. pengalaman dicetak dari lingkungan. lingkungan tidak serta merta dimanifestasikan sebagai sebuah kebersihan. tapi, lebih mendalam lingkungan dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem. selamat datang insan-insan pers.
Bandar Lampung-Media Sriwijaya
Berselang beberapa hari semenjak perhelatan perdana PMWS 2011, Unila rangkai gagasan dalam membentuk aliansi pers mahasiswa. diawali dengan diskusi persma pertama yang dilangsungkan pada minggu (16/10) malam, Unila mencoba mengurai konsep dalam memersatukan persma se-Sumatera.
Namun, niatan baik Teknokra Unila yang dikemas satu paket dalam even pelatihan manajemen web se-Sumatera tersebut ditanggapi beragama oleh peserta. Hampir kesemua peserta sebetulnya menyatakan setuju untuk bergabung dalam sebuah wadah pemersatu persma se-Sumatera. Namun, Yosa (AklamasI) menyatakan ketidak sanggupan dirinya untuk turut bergabung dalam wadah pemersatu persma se-Sumatera lantaran dirinya mengakui bahwa ia tidak mempunyai wewenang dalam mengambil keputusan dan sikap. Selain itu, dirinya juga berkeberatan bilamana kegiatan PMWS 2011 ini dirangkai dalam satu agenda dengan pembentukan wadah pemersatu persma. “kami setuju gabung ini (APM, red) namun tidak untuk sekarang.”ujarnya disela-sela diskusi
Tak hanya itu, Yosa turut pula menyatakan sikap bahwa Fopersma (Forum Pers Mahasiswa) adalah badan tertinggi aliansi pers mahasiswa di Riau. Sebagai bagian didalamnya, dirinya sangat tidak berhak untuk mengambil sikap dalam menentukan bergabungnya Aklamasi dalam wadah pemersatu persma se-Sumatera. Senada dengan Yosa, Hidayat utusan dari LPM Bahana Mahasiswa Universitas Riau turut pula menyatakan sikap untuk tidak bergabung dengan wadah pemersatu pers mahasiswa. pihak tuan rumah (Teknokra Unila, red) telah memberika tenggat waktu selama dua hari bagi kedua utusan persma asal Riau tersebut untuk mengonfirmasi Pemimpin Umum (Pemum) masing-masing. Namun, berdasarkan pengakuan dari keduanya pada saat diskusi, keduanya tetap menolak untuk bergabung dengan wadah pemersatu pers mahasiswa se-Sumatera. Mereka beralasan, wadah pemersatu pers mahasiswa se-Sumatera ini harus dibahas secara terpisah dengan even PMWS.
Berbeda dengan tuan rumah, Teknokra menyatakan bahwa ketidak ikut sertaan keduanya bukan menjadi batu sandungan bagi wadah pemersatu persma kedepannya. Produk yang dihasilkan berupa portal web bagi wadah pemersatu persma se-Sumatera ini sangat terbuka bagi lembaga persma Sumatera manapun yang menyatakan sikap untuk turut bergabung.
Berdasarkan hasil kesepakatan diskusi hari terakhir Kamis (20/10) malam, tercapailah konsesi berupa pemilihan nama bagi wadah pemersatu persma se-Sumatera. Ada lima nama yang dijadikan sebagai rujukan peserta diskusi dalam memilih nama terbaik bagi insan persma se-Sumatera. Usulan yang diajukan Rahman utusan dari Media Sriwijaya mendapatkan persentase tertinggi dengan Sembilan suara dengan nama Komunitas Pers Mahasiswa Sumatera (KPMS). Disusul PPMS(Perhimpunan Persma Sumatera), APMS (Aliansi Persma Sumatera) dengan tiga suara dan Hipermatra (Himpunan Persma Sumatera) serta NPMS (Nongkrong Persma Sumatera) masing-masing satu suara.
Selain itu, ditetapkan pula koordinator web portal KPMS atas nama Kairul Mubarak dari LPM Detak Universitas Syiah Kuala, Aceh. Tak kurang, 16 perwakilan dari masing-masing LPM ikut menandatangani deklarasi pembentukan KPMS. Adapun 16 perwakilan LPM yang menanda tangani deklarasi tersebut, Teguh Suprayitno (LPM Patriotik Unbari), Khairul Mubarak (LPM Detak Unsyiah), Rafina (Persma Kreatif Unimed), Tian (LPM Teropong UMSU), Rendi Hariwijaya (LPM Media Sriwijaya FH Unsri), Jefry Rajif (SKK Ganto UNP), Janhari (LPM Gelora Sriwijaya Unsri), Yogi (LPM UMP), Suparmanto (LPM Ukhuwah IAIN Raden Fatah), Endri (UKM Pers Sukma Polinela), Sugiyanto (Kronika STAIN Ruwa Jurai), Yunia (LPM Trotoar Unja), dan Arjuna (Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang).
Dengan dibentuknya KPMS, dua peserta asal Bahana dan Aklamasi tetap konsisten dengan pernyataannya untuk tidak turut bergabung. (Rendi)