Budaya Libur Indonesia

on Sabtu, 18 Februari 2012

Libur lagi..libur lagi. entah ini sudah menjadi kebiasaan bangsa Indonesia yang kerap meliburkan diri atau memang ada motif yang cukup positif bagi semua kalangan. yah, memang benar bila hari libur adalah waktu yang tepat untuk dijadikan sarana merefresh diri tatkala jenuh pada pekerjaan yang tengah dilakoni.
Indonesia adalah negara dengan hari libur terbanyak
namun, “bila terus-terusan libur ?”, sebagai bangsa yang sedang berbenah menuju bangsa yang dihormati seharusnya keberadaan hari libur ini setidaknya bisa diminimalisir. karena apa, contoh Jepang dan Korea yang hanya memiliki hari libur sebanyak hitungan jari (diluar kalender Georgia yang setiap minggu adalah hari libur). Jepang dan Korea adalah dua negara dengan ras yang berada. bangsa mereka dihormati lantaran keuletan dan disiplin mereka yang tinggi. sanjungan kepada kedua bangsa tersebut sudah hampir diketahui di pejuru dunia. siapa yang tidak kenal dengan Toyota? siapa yang tidak kenal dengan Samsung? kedua produk tersebut adalah residual dari bukti nyata bahwa bangsa tersebut adalah bangsa yang ulet, tangguh dan rajin. lalu, apa relevansinya ? tentu ada. betapa, kedisiplinan dibangun dari kesadaran dari segenap pihak terkait (pemerintah dan rakyat) untuk lebih reaktif dan reponsif atas tugas yang diemban sebagai warga negara yang baik. mereka sekolah sama seperti bangsa Indonesia, mereka bekerja sama seperti Indonesia tapi satu yang beda. mereka sedikit hari libur yang membuat eskalasi produktifitas kinerja mereka juga meningkat.
Indonesia? jangan tanya. surat keputusan bersama tiga menteri (SKB) Tiga Menteri, yakni Menteri Pendayagunaan dan Reformasi Birokrasi, Menteri Agama, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. yang menetapkan bahwa hari ini, Senin (16/5) adalah rangkaian cuti bersama berhubung besok selasa (17/5) 2011 bertepatan dengan hari raya umat Budha, Waisak. saya masih toleran bila dijatuhinya ketetapan (Beschiking) mengenai Hari Raya Umat Budha, Waisak. namun, yang saya agak geleng-geleng kepala adalah kenapa senin (16/5) 2011 sehari sebelum perayaan waisak digulirkan harus diliburkan dengan SKB Tiga Menteri atas nama cuti bersama.
banyak pula, yang keberatan dan menolak keputusan SKB Tiga Menteri ini. salah satunya adalah Sukarta. dalam petikan wawancaranya yang saya kutip dari Tempo Interaktif dirinya menyebutkan “Kami tetap menghormati surat keputusan bersama tersebut,” kata Sekretaris Daerah Kota Surakarta Budi Suharto saat ditemui, Senin, 16 Mei 2011. Namun, mereka tetap memutuskan untuk tidak libur dengan pertimbangan pelayanan kepada masyarakat. Keputusan tersebut telah disebar ke semua satuan kerja, beberapa saat setelah pemerintah memutuskan cuti bersama.” begitu katanya.
bukan tanpa alasan kenapa saya keberatan dengan keputusan SKB Tiga Menteri secara legal formal dalam struktur ketatanegaraan Indonesia. (i) Indonesia sudah terlalu banyak hari libur. hal ini membuktikan dari ekses behavioral dari para penetap kebijakan kita yang secara implisit bsa diasumsikan adalah pendamba hari libur. lagipula, kekuatan hukum SKB Tiga Menteri tersebut masih jauh dibawah tata aturan peraturan per-UU-an yang berlaku di Indonesia (Lihat UU No.10 Tahun 2004 ttg Asas Per-UU-an). artinya, secara yuridis tak menyoal seharusnya instansi-instansi swasta ataupun negeri untuk tidak menaati aturan tersebut. karena sifatnya tidak imperatif dan sifatnya(SKB 3 M) hanya Mogen (kebolehan). (ii) Hari Libur bersifat tidak mendidik.Korea Selatan bisa diambil contoh, negara tersebut hanya mempunyai 11 hari Libur nasional. bandingkan dengan Indonesia, yang mencapai 70-an hari libur nasional plus hari-hari dipaksa ‘diliburkan’. perlu dicermati dengan seksama, korelasi hari libur dengan pembangunan bangsa. semakin sedikit bangsa itu hari liburnya maka semakin besar pula kemungkinan bangsa tersebut untuk maju. Korsel dan Jepang adalah contoh nyata perhal sedikitnya penanggalan mengenai hari libur. karena apa, dengan sedikit hari libur pekerja bisa secara produktif bekerja dengan rajin, siswa/siswa bisa dengan rutin belajar setiap harinya. berbeda dengan Indonesia, hari libur begitu banyak. libur sering dimaknai dengan kebebasan. bebas dari belenggu pekerjaan, bebas dari tugas-tugas yang bekeberatan, bebas dari segala tuntutan. hal inilah yang sangat saya khawatirkan, kultur sebagian besar bangsa Indonesia yang mengasosiasikan libur sebagai bebas (free) sangat miris sekali. mengapa ? kewajiban sebagai negarawan yang baik yang patuh pada regulasi kewargaan negara yang baik luput dan tereduksi lantaran ekses dari asosiasi hari libur. inilah yang sangat dikahwatirkan, tugas dan kewajiban negara kemungkinan besar lalai perihal definisi libur sebagai kebebasan. bila, anda rajn mengoleksi dan gemar menonton film-film produksi Hollywood yang menayangkan mengenai kehdupan masyarakat Amerika yang dinamis, penuh tuntutan pekerjaan namun ada sis edukatif yang dapat dipetik dari penggalan adegan yang dilakoni yang bisa dijadikan contoh yang positif bagi bangsa Indonesia ini. yakni, tidak lepas tanggung jawab. film-film produksi Hollywood seringkali menceriterakan skrip film dengan adegan seroang yang bekerja namun pada hari liburnya yang Ia lakukan adalah menuntaskan pekerjaan dan berkumpul bersama keluarga. bukan, berleha-leha dirumah sembari tidur-tiduran dan bangun pagi yang menjelang siang. sangat kontras dengan kultur bangsa kita. walaupun film tersebut hanya adegan fiktif, namun hal tersebut dapat mewakili kehidupan sesungguhnya bangsa Amerika. karena, adegan dtersebut merupakan adegan yang jarang menjadi bahasan publik lantaran adegan tersebut biasa-biasa saja. nah, adegan-adegan biasa seperti inilah yang sebenarnya menjadi taste dan naturalnya film tersebut. jadi, cukup sekali untuk menggambarkan kehidupan publik amerika secara shortcut dalam sebuah film.
maka, seharusnya pemimpin negara ini berkaca dan mencontoh negara-negara lain yang lebih dahulu maju. bukan, sistem ekonomi ataupun politik yang ditiru, bukan mekanisme pemilihan umum yang ditiru, bukan pula sistem pendidikan yang perlu ditiru dan diimplementasikan di Indonesia supaya negara ini maju dan menjadi bangsa yang disegani. tapi, contohlah pembanguna  karakter disiplin dan manajemen massa yang mesti dipelajari oleh pemimpin bangsa ini. pembangunan perencaan ekonomi secara pragmatik ataupun visioner adalah ekstensfikasi dari tugas seorang pemimpin. bagaimana bangsa ini bisa maju bila pemimpinnya sendiri ‘meliburkan diri’ dari tugas kenegaraannya. (lihat http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/05/16/brk,20110516-334711,id.html).

0 comments:

Follow by Email