Proses Pembebasan Dehumanisasi dari Diskriminasi Sosial

on Sabtu, 18 Februari 2012


Salah satu bentuk diskriminasi
Kesalahan mendasar yang paling fundamental dialami bangsa Indonesia adalah krisis jati diri. sifat penjilat dan bermuka dua adalah kesalahan fatal yang sangat krusial menjalar kedalam volkgeist bangsa Indonesia. pameo yang menyebutkan bilamana warga masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang ramah tamah adalah kebohongan besar dalam diri bangsa Indonesia. jati diri bangsa yang compang-camping ini terus mengoyak batin ibu pertiwi yang tengah menangis perihal kelakuan warga yang duduk dan berdiri, menggantungkan hidup dan melapangkan hati di Bumi Ibu Pertiwi.
sungguh ironi, image Indonesia dimata dunia yang dikenal sebagai negara yang ramah akan kehadiran tamu asing adalah bullshit. hal tersebut adalah kebohongan besar yang terpatri dalam jiwa-jiwa negarawan palsu yang saat ini tengah ‘menyibukkan diri’ membuat program penctraan diri demi popularitas tanpa batas. hingga dikenal sebagai orang dermawan. padahal strategi tersebut adalah untuk menjatuhkan lawan.
lantas, siapa yang mesti disalahkan ? behavioralisme masyarakat Indonesia yang ewuh pakewuh adalah karakteristik busuk masyarakat Indonesia. muka-muka penjilat yang lapar akan amanat (jabatan, red). kerap muncul disektar kita. berlagak tamah namun tersirat kelakuan yang serakah. sungguh, ini adalah sebuah diskriminasi yang sangat akut yang tengah menjadi pandemi bagi masyarakat Indonesia. penyakit ini lebih ganas bahkan langsung terasa sekejap mata. penyakit hati jauh lebih menyakitkan ketimbang rasa sakit yang dirasakan langsung oleh tubuh kita. diskriminasi kadang membuat kita menjadi geram, kesal bahkan bila terendap dalam waktu yang cukup lama maka akan absurd dan irasional.
kegelisahan yang saya rasakan betapa masyarakat Indonesia sudah sedemikian ‘menjilat’ terlihat dari berbagai sektor kehidupan. mulai dari jasa pelayanan publik, aksesifitas sarana publik, hingga interaksi horizontal sesama jelata pun kerap diwarnai tindak diskriminasi, sekalipun itu kecil. ambil contoh, bila anda menaiki sebuah moda transportasi publik yang biasa anda gunakan ketika anda hendak mencapai tempat kerja ataupun kuliah, saban hari yang bakal anda temukan lazimnya di Indonesia pelayanan yang biasa-biasa plus sambutan tak menyenangkan dari awak bus yang mengendarai transportasi umum tersebut. namun, bila anda jeli melihat situasi kondisi akan kontras kejadiannya bilamana tamu besar/gubernur/walikota/pejabat yang menaiki moda transportasi tersebut. sambutan yang super ‘wah’, bila perlu disambut dengan karpet merah, senyum sumringah nan lebar akan menjadi pemandangan utama ketika yang datang adalah elitis negeri. bahkan baru-baru ini, informasi yang merebak bahwa disebuah daerah kecil di Indonesia segera akan disambangi Presiden Indonesia, SBY. akses jalan yang bakal dilalui SBY diberitakan bakal diperbaiki hingga sang-Presiden lancar, aman, dan nyaman melintasi ruas jalan daerah tersebut. sempat terbesit pertanyaan yang terlintas dalam benak pikiran, sebenarnya negara ini milik elitis ataukah rakyat ? bila mengedepankan rakyat sudah jelas tertera dalam amanat konstitusi negara Indonesia yang termakntub dalam Pasal 2 UUD’45 bahwasannya kedaulatan berada ditangan rakyat dan dijalankan melalui UU. namun, fakta dilapangan ? nol besar.  lantas, bila mengedepankan elitis dengan alasan penghormatan rasanya kurang etis menyebutnya sebagai sebuah penghormatan. bagi saya pribadi, mereka hanyalah sekelompok orang tak berguna, lantaran yang menjalani hidup adalah saya. terus terang, kerja keras sayalah yang menghantarkan saya kedepan pintu gerbang kesuksesan (tinggal takdir Tuhan YME) bukan atas hasil kinerja elitis. mereka cuma datang seketika, ingat sesaat dan lupa selamanya. sekelompok kaum minoritas yang tidak tahu diri, menggantungkan hidupnya dari sebuah marker hitam berharap kelak mereka yang mencalonkan diri sebagai pejabat pemerintahan bakal dipilih dengan suara terbanyak dan berasumsi bahwa disenangi banyak kalangan. toh, yang dicari oleh masyarakat negeri ini bukan ketampanan ataupun kekayaan calon elitikus, melainkan kompetensi diri. namun, karena pada dasarnya sudah tidak tahu malu, yah apa mau dikata ?
satu lagi, saya pernah menangkap gerak komunikas verbal dari seorang dosen saya di kampus merah-ku tercinta. masih cukup relevan dengan tulisan saya satu ini. singkat cerita, tutur sang dosen adalah mengeluhkan tindak diskriminasi karyawan terhadap dirinya sebelum menjabat sebagai elit kampus. contoh kecil yang bisa ditarik pelajaran bahwa janganlah sekali-kali membedakan seseorang lantaran status, latar belakang ataupun tingkat sosial dan edukasional yang mereka dapat. namun, hargailah seseorang tersebut karena bila kita mau dhargai. berilah dirinya penghormatan dan jamuan yang baik sekalipun itu pahit karena urusan pribadi yang menumpuk. sambutlah dengan senyuma walaupun tersirat senyum palsu tatkala pikiran tengah melanglang buana jauh ditengah samudera. ingatlah, dunia ini ibarat minum air. tidak akan selamanya. satu hadits yang saya harap cukup untuk mengkontemplasikan pola pikir kita menjadi lebih baik
“Pada surah 4, An-Nissa’, ayat 140 Tuhan berfirman”
“…Tuhan akan mengumpulkan orang2 Munafik dan yang tak beriman di Neraka”
Semua ayat2 lain yang mengacu orang2 Munafik mengisyaratkan mereka ke neraka selamanya.
Tuhan telah berfirman. Dia telah mengeluarkan perintah-Nya; jelas dan tegas. Jangan membeda2kan para utusan-Nya, hubungan kalian dengan mereka adalah suatu hal yang terpisah. Bila kau lakukan itu, tidak saja bahwa kamu itu tak patuh pada Tuhan tetapi juga per definisi, adalah tak beriman. Tak ada di dalam Quran Tuhan memerintah kita untuk bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya tetapi justru Dia-lah, namun demikian, memerintah kita untuk menerimanya sebagai utusan dan percaya kepadanya dan berjuang serta mendukungnya dan mengikuti cahaya terang yang dikirimNya bersamanya

0 comments:

Follow by Email