Lumbung Energi Untuk Siapa ?

on Rabu, 08 Februari 2012
Menara Listrik PLN
Akhir pekan ini separuh wilayah Palembang dilanda labilitas cuaca yang mendera kebanyakan warga. Curah hujan yang tak menentu melanda kota Palembang membuat sejumlah titik langganan banjir menjadi kewalahan. Namun, satu hal yang kerap mutual bila hujan tiba. Listrik padam. Betapa tidak. hujan kerap menjadi dalih atas sejumlah pemadaman listrik yang terjadi di wilayah Palembang. Seolah menjadi kebenaran absolut. Padahal, hujan = listrik padam tidaklah selalu linear.
Namun, perlu dicatat. Separuh wilayah yang terletak di pinggir kota Palembang, seperti Perumnas dans sekitarnya kerap mengalami listrik padam secara teratur. Seolah menjadi spot yang dibidik pemadaman listrik, daerah Perumnas bahkan mengalami pemadaman listrik secara berulang hanya dalam interval waktu 1 Jam.
Menjadi pertanyaan, apa PLN tengah 'main-main' dengan gardu listrik ?
Sejumlah proyek pembaharuan pembangkit tenaga listrik di Sumsel ini terus digalakkan oleh rezim pemerintahan yang tengah memimpin. Bahkan, tak main-main dengan slogan politis bernuansa ekonomis dari pemerintah provinsi Sumsel bahwa Sumsel menjadi lumbung energi dan pangan nasional. Padahal, dibelakang kilauan cahaya wilayah perkotaan masih terjerembab dalam gelap gulita yang membelak mata.
Memang, wilayah Palembang akhir-akhir ini tengah memasuki musim hujan dengan curah hujan tinggi. Namun, terkadang hal tersebut menjadi aneh bila listrik padam sedangkan cuaca di luar dalam keadaan cerah. Yang lebih anehnya lagi, padamnya listrik tidak dipadamkan secara periodik seperti setengah hari atau sehari seminggu seperti pemberitaan yang muncul di media massa menyoal pemadaman bergilir. Namun, pemadaman itu berlangsung nyaris setiap hari dan berkali-kali padam dan menyala hanya dalam jangka waktu 1 Jam saja. Ironis, sebagai lumbung energi nasional seharusnya Palembang mampu mengatasi sejumlah polemik energi yang melanda. Menjadi penting untuk pemerintah, pemadaman listrik secara berulang memberikan efek rugi kepada warga. Pedagang yang menjajakan dagangannya dengan bergantung kepada energi listrik terpaksa dibuat tunggang langgang akibat harus menyetel genset lantaran listrik padam, setelah beberapa saat harus mematikan genset karena listrik kembali menyala. 
Bahkan, keluhan demi keluhan yang masuk melalui surat pembaca di media massa mengenai pemadaman listrik secara berulang berakibat terganggunya aktifitas warga. Namun, hal ini tidak disikapi secara lugas oleh pihak terkait. lantas, menjadi pertanyaan. Lumbung energi sebenarnya untuk siapa ? padahal, elektifitas pemerintahan terpilih mencanangkan Sumsel sebagai lumbung energi sebagian besar adalah rakyat kecil. Namun, implikasi atas kebijakan yang ditelurkan oleh Pemerintahan terkesan semenjana. Padahal, rakyat tidak setengah-setengah dalam memilih Alex Noerdin sebagai kepala daerah Sumsel. Itu tadi Palembang. Masih banyak wilayah-wilayah lain di belahan bumi Sriwijaya ini masih berkutat dalam keheningan malam tanpa ada bantuan listrik yang dapat 'mencerahkan' kehidupan warga. Menjadi ironis, ditengah gegap gempita pembangunan citra Palembang dan Sumsel sebagai wilayah maju di Indonesia terbukti dengan seringnya even kelas internasional dilangsungkan di Palembang. Namun, masih banyak rakyat jelata yang harus berjuang keras keluar dari 'kegelapan' hidup. Lantas, satu pernyataan singkat untuk Gubernur Alex Noerdin, Lumbung Pangan Untuk Siapa ?

0 comments:

Follow by Email