Menelusuri Sisa Warisan Kolonial di Palembang

on Minggu, 25 Desember 2011

Bung Karno pernah mengungkapkan dengan pameo terkenal seantero negeri dengan sebutan "Jas Merah", "Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah". ungkapan secara verbal yang dilontarkan oleh founding father bangsa ini secara tersirat terkandung makna bahwa Sejarah adalah bagian penting dalam kehiudpan manusia. dengan adanya sejarah, pigura dunia dengan lukisan abstrak didalamnya menjadi lebih berwarna dan sedap dipandang mata. menyejukkan kalbu dan menghantarkan ketenangan jiwa. 
namun, pelik rasanya bila mengkondisikan titah sepeninggal sejarah di Indonesia. hegemoni Belanda yang menjajah nusantara selama hampir 350 tahun lamanya, meninggalkan peradaban besar dan maha karya luar biasa. mulai dari sistem pendidikan, sistem hukum, sampai bangunan artistik khas Eropa yang kental dengan ornamen Indah nan menawan. 


sayangnya, warisan besar dari bangsa Belanda itu tak serta merta membuat Indonesia semakin kaya. sstem hukum yang notabene merupakan warisan besar kerajaan Belanda yang memberlakukan asas konkordansi sistem hukum Belanda di Indonesia (dulu Hindia Belanda) tak dinyana malah membuat sistem hukum yang diterapkan di Indonesia saat ini corat-marut. penafsiran pasal demi pasal yang asal-asalan, penyusunan bab per bab undang-undang yang kurang peka dengan realitas sosial membuat banyak produk hasil legislasi nasional menjadi SPAM bagi masyarakatnya sendiri. seperti halnya dengan UU Ketenagakerjaan (No. 13 tahun 2003), UU Pertanian dsb. 
lalu, keberadaan bangunan-bangunan klasik khas Belanda yang artistik turut pula menjadi korban ketidak pedulian bangsa ini akan sejarah panjang yang dialami bangsa ini pada masa lampau. kebanyakan dari gedung-gedung tua tersebut adalah warisan sejarah yang telah usang.


Sebagai contoh kecil, keberadaan gedung-gedung tua arsitektur Belanda di wilayah Tangga Buntung, dekat landmark-nya kota Palembang, Jembatan Ampera. gedung-gedung tua yang artistik tersebut sungguh miris untuk diungkapkan dengan kata-kata. padahal, didalamnya tersimpan pesona budaya akan peradaban masa lampai yang begitu membahana. namun, pada kenyataannya. keberadaan gedung-gedung tua tersebut banyak yang menjadi tempat tinggal (maaf) gelandangan ataupun menjadi saksi bisu kemegahan bangunan Ampera yang terawat dengan laik dan menarik. tak pelak, seolah saya menangkap kegalauan gedung-gedung tua tersebut dengan tangisan dan kegundahan bahwa 'mereka pun ingin hidup'. 

tak ayal, sempat terlintas dalam benak pikiran. bila gedung-gedung tua tersebut bisa bicara, saya yakin mereka akan berdemonstrasi menuntut persamaan hak dengan keberadaan gedung-gedung baru yang lebih futuristik. kesenjangan lapisan sosial masyarakat Indonesia turut pula mempengaruhi kesenjangan bangunan-bangunan yang menjadi tempat tinggal peradaban manusia. kebanyakan dari kita, malah mengagung-agungkan bangunan modern nan futuristik yang minim gas buang atau bahkan berbentuk aero dinamis dan tahan gempa. padahal, bangunan-bangunan klasik yang artistik tersebut justru malah memberikan warna cerah dalam lukisan abstrak peradaban manusia. terang saja, keberadaanya yang tinggal dimakan zaman, membuat dirinya seharusnya menjad warna putih ditengah hitam pekat lukisan abstrak peradaban dunia. namun, apa daya. pecnta budaya tak punya daya untuk menghidupkan kembali bangunan klasik yang berdiri di kota Palembang.harapannya kedepan, bangsa ini lebih apresiatif terhadap warisan besar bangsanya. dan untuk kembali mengingatkan kita semua bahwa sejarah adalah bagian indah dalam kehidupan manusia. katakan 'JAS MERAH'.

0 comments:

Follow by Email