(Re) Inkarnasi Hidup : Mendirikan Sekolah Anak Jalanan

on Sabtu, 10 Desember 2011
tantangan berat mesti dihadapi ditengah sekelumit kompleksitas permasalahan yang tengah mendera. demi sebuah pengabdian hakiki kepada masyarakat akan sebuah titah hidup menjadi pertaruhan. Tuhan tentu tak sengaja menciptakan manusia dengan dua kondisi yang bertolak belakang. membagi golongan antara si-kaya dan si-miskin adalah sebuah pilihan hidup yang manusia hendak kemana menentukannya. dan, Tuhan telah menyiapkannya dengan matang atas konseptualisasi kehidupan itu.
akan tetapi, Tuhan tentu tak panas hati menjatuhkan seorang yang kufur kedalam jurang kemiskinan. dan, lantas tak dingin hati memberikan limpahan materi yang tumpah ruah kepada si-kaya. kemiskinan yang diberikan Tuhan boleh jadi adalah kebahagaiaan hakiki bagi setiap insan yang merindukannya. terkadang, manusia tak menyadari itu dan malah menghardik Tuhan yang jelas tak salah atas kondisi yang tengah mereka hadapi. 
gradasi antara kaya dan miskin di Indonesia menginspirasi saya dalam mencoba menggagas penyatuan segregasi sosial yang begitu renggang. demi membuka kedok absurditas topeng manusia yang kerap berdalih atas kesalahan Tuhan dalam menciptakan mereka hidup di muka bumi. kendati, ini bukanlah satu langkah konkrit yang bermasa depan cerah. paling tidak, iktikad baik yang datang mendapatkan apresiasi dari sang pencipta.
mengagas 'Sekolah Anak Jalanan' bukan hal baru dalam lalu lintas cakrawala pemikiran kita. sudah banyak aktifis, sosialita yang fokus pada pengembangan SDM yang kurang mampu secara moril dan materil untuk bersekolah secara reguler. memberikan edukasi sederhana kepada anak-anak putus sekolah menjadi impian terbesar saya. memendam misi yang sulit untuk diwujudkan ibarat bom waktu yang menunggu detik nol dalam konfigurasi menit dan detik bersua.
kendala yang datang tak hanya kekalutan dalam diri yang menganggap belum bagitu kapabel untuk menyelenggarakan even seperti halnya Sekolah bagi anjal. selain itu, benturan konflik horizontal di masyarakat cenderung mengubah peta pemikiran yang telah terkonseptualisasi dengan matang menjadi buyar seketika. tantangan berat kembali mengemuka dengan minimnya aktifis yang fokus dan berjuang keras untuk mewujudkan visi Indonesia cerdas. 
kendati, hak konstitusional warga seperti mendapatkan pendidikan belum mampu diwujudkan pemerintah secara sinergis. peran serta masyarakat lainnya secara horizontal cukup membantu akselerasi pembangunan visi Indonesia cerdas dalam pigura konstitusi.
terkadang, sempat terlintas dibenak saya betapa lalu lalang kendaraan di jalan raya, deretan rumah nan megah, serta hutan beton yang menghiasi setiap sudut kota mengindikasikan semakin pesatnya kemajuan ekonomi nasional. akan tetapi, bergeser sedikit kearah perapatan terlihat kondisi 180 derajat berbeda dengan bangunan kokoh disebelahnya. segerombolan anak kecil, ada yang tengah menggendong sang adik yang masih belia, membawa kerincingan kecil sembari menyuarakan lagu-lagu populer, duduk termangu dipinggir jalanan membinar di matanya membawa sejuta kekalutan pasca kepulangannya dari mencari sesuap nasi ditengah ganasnya jalanan kota, 'akan cukup setorankah hari ini'. sekelumit penggambaran kondisi aktual anak-anak Indonesia menggerakan hati yang merongrong untuk mensegerakan diri membantu mereka. sadar diri ini bukan malaikat ataupun dewa yang memberi pertolongan kepada umat manusia, akan tetapi semangat dan tekad kuat untuk membantu sesama terpanca hangat membara didalam raga. belum lengkap hidup ini rasanya bila belum berharga bagi kebanyakan orang. menyudahi kegundahan hati dengan kondisi saudara dengan aksi yang nyata terus bergejolak didalam dada. entah, dapat terealisasi atau tidak. yang jelas, saya tekad bulat bila saya sukses ataupun tidak tanpa digaji ataupun tidak tanpa diberi pahala ataupun tidak, hidup ini hanya untuk orang-orang yang hidup lainnya. our life is just for the other live. kehidupan penuh yang kita miliki hendaknya dibagi kepada mereka yang kurang penuh hidupnya. bukankah, manusia itu adalah makhluk yang tidak lengkap hidup dan matinya. bila anda merasa hidup anda berkepenuhan dan berkelengkapan, maka bersegeralah bagilah kepada yang tengah dilanda krisis berkepanjangan. agar anda tidak menjadi sombong dihadapanya karena kelengkapan dan kesempurnaan yang anda miliki. bila kesempurnaan yang anda rasakan telah terbagi, maka kelengkapan hidup anda berkurang dan anda patut untuk terus bermunajat bahwa diri ini jauh dari sempurna. maka, berpikirlah !

0 comments:

Follow by Email