Ombak Besar Separatisme

on Kamis, 15 Desember 2011

Upaya GAM/Net
Sudah hampir enam decade, Indonesia menjadi bahagian penting warga dunia. Semenjak mendapat pengakuan kemerdekaan secara de jure 17 Agustus 1945 silam dari kolonialisme, Indonesia terus menata diri menjadi pesaing ketat kompetisi global. Tak ayal, Indonesia sempat menjadi macan ekonomi dan olahraga Asia pada pertengahan abad 20.
Problematik pengakuan kemerdekaan tentu tak lepas dari perjuangan berdarah tiada henti. Strategi penyerangan pun disusun demi menghantam laju colonial menjajah bumi Indonesia. sejumlah pionir kemerdekaan, pantas disematkan sebagai pahlawan revolusi. Setidaknya, telah mampu melepaskan Indonesia dari bayang-bayang koloni –meskipun sekarang kolonialisme gaya baru – eksploitir SDM dan SDA secara sadistis tidak kembali digulirkan semenjak proposal gagasan Hak Asasi Manusia diperdengungkan.
 Tragedy berdarah yang merenggut ribuan pembela tanah air dalam memrebutkan bumi pertiwi menjadi bukti bahwa bangsa ini serius menatap masa depan yang lebih baik. Beragam langkah ditempuh, mulai dari melakukan perundingan, gencatan senjata, hingga meminta dukungan Negara-negara lain dalam memerangi kolonisasi.
Perlahan tapi pasti, Indonesia tumbuh menjadi sebuah bangsa yang diperhitungkan dalam percaturan global. Potensi demografi yang melimpah ditunjang dengan keaneka ragaman hayati yang memesona menambah khasanah kekayaan nusantara. Namun, kendati dikaruniai kekayaan yang luar biasa, tak membuat Indonesia cukup menjadi sebuah bangsa yang besar.
Persoalan kenegaraan yang sistemik selalu menjadi penghalang kemajuan negeri. Rentetan peristiwa memilukan yang membuncah kegundahan akan rasa ke-Indonesiaan perlahan mulai terkikis. Kaleidoskop Indonesia selama 66 tahun dihiasi lika-liku konflik horizontal yang berujung pada tragedy memilukan.
bermula dari pergerakan komunisme yang digawangi oleh Musso di Indonesia, ancaman bentuk politisasi horizontal membuat derai tawa Ibu Pertiwi makin menukik.  Pembangkang-pembangkang kecil bermunculan. PKI adalah ikon separatisme. Meskipun, PKI tak bertujuan memisahkan diri secara teritori namun PKI meretas asa melepaskan diri secara ideologi.
tantangan berlanjut dengan munculnya gerakan separatisme mengusung pemisahan secara teritori dari NKRI. Organisasi Papua Merdeka, Negara Islam Indonesia, Gerakan Aceh Merdeka, Referendum Ngayogya Hadiningrat, dan Republik Maluku Selatan adalah contohnya. Gerakan-gerakan ini tentu bukanlah gerakan yang hanya ingin eksis dilayar kaca. Kehormatan dan klaim diri sebagai sebuah bangsa yang bermartabat terus menggema. pengkhianatan kerap menjadi bumbu-bumbu separatisme.
Ketidak becusan pemerintah dalam mengurus daerah-daerah penunjang sentral Jakarta memicu pergerakan separatism di sejumlah wilayah. Selain itu, pengkhianatan pemerintah pusat dalam sejarah pendirian NKRI terhadap daerah turut pula menambah warna. Untuk yang satu ini, kasus paling actual yang menghiasi media-media nasional dan internasional adalah upaya pemerdekaan diri rakyat Papua dari NKRI. Menggugat Pepera 1961 yang merupakan noktah kembalinya Irian Barat ke Indonesia pun dilakukan.
Kendati, warga Papua menuding upaya pemerdekaan Papua dari NKRI bukan sebatas persoalan pembangunan ekonomi, akan tetapi lebih kepada harkat dan martabat sebagai bangsa. Upaya-upaya serius pun dilakukan.menggalang dukungan dari berbagai negara digalakkan.Vanuatu dan Inggris adalah dua negara yang membuat bendera ‘Bintang Kejora’ dikibarkan. Tanah Papua bersiap lepas dari NKRI. Berjiwa negarawan tentu membawa kita pada dukungan moril kemerdekaan Papua. Tak dapat dinafikkan, pemerintah pusat telah salah mengurus pulau cantik nan elok ini. rasa iri yang berkepanjangan terhadap pendatang (Jawa) memicu gerakan pemisahan diri. Sudah 38 tahun lebih OPM mengawal upaya pemerdekaan Papua Barat.  Warga Papua berbeda dengan rakyat Indonesia. perbedaan tersebut dapat diklasifikasikan dalam berbagai bidang. Dalam bidang IPTEK,masih primitifnya warga Papua membuat rakyat tak mampu bersaing dengan warga transmigran. Dalam bidang budaya, proses Jawanisasi yang dicanangkan rezim orde baru mengikis secara perlahan proses demokrasi lokal. Pengelolaan peradatan dan peribadatan dalam mengusung pemerintahan daerah Papua ‘dipaksa’ menurut Jawa. Tak ayal, warna Papua coba kembali dibangun lewat MRP (Majelis Rakyat Papua).
Menjadi sebuah pertanyaan, pasca kemerdekaan Timor Leste akankah menimbulkan gairah daerah untuk melakukan hal serupa ? ibarat menunggu bom waktu, kejadian tersebut tinggal menunggu waktu. Indonesia dikejar ancaman separatis lewat kapitalis yang dibobok melalui bopeng nasionalis.

0 comments:

Follow by Email